Petani di Banyuwangi Gelar Petik Kopi di Sumber Mata Air Peninggalan Belanda

panen kopinya dengan menggelar petik kopi di sumber mata air yang ada sejak zaman kolonial Belanda, Sumber Gondo, Kabupaten Banyuwnagi Jawa Timur.

Petani di Banyuwangi Gelar Petik Kopi di Sumber Mata Air Peninggalan Belanda
Surya/Haorrahman
Warga Gombengsari bersama Bupati banyuwangi Anas merayakan musim panen kopinya dengan menggelar petik kopi di sumber mata air yang ada sejak zaman kolonial Belanda, Sumber Gondo. 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Warga Gombengsari merayakan musim panen kopinya dengan menggelar petik kopi di sumber mata air yang ada sejak zaman kolonial Belanda, Sumber Gondo, Kabupaten Banyuwnagi Jawa Timur.

Sumber mata air Sumbergedor memasok 80 persen kebutuhan air bersih Banyuwangi. Sumber air ini telah dikenal sejak jaman kolonial. Hal ini dibuktikan dengan bangunan tempat penyimpanan airnya yang dibangun Belanda sejak 1927. Saat ini, kawasan yang seluas 12 hektar tersebut dikelola oleh PDAM Banyuwangi.

Lokasi ini berada di kawasan perbukitan yang sejuk. Di sekelilingnya terdapat perkebunan kopi, sehingga menambah keindahan kawasan ini. Aroma kopi pun menguar di sepanjang jalan menuju lokasi.

Camat Kalipuro Henry Suhartono mengatakan, petik kopi Gombengsari yang biasanya digelar di lingkungan Lerek, pada tahun ini dipindahkan ke Sumbergedor. Ini karena warga ingin menjadikan Sumbergedor sebagai lokasi wisata.

"Selain lokasinya yang sejuk, tempat ini juga dikenal ada bangunan bersejarah, yakni tempat penyimpanan airnya adalah bangunan peninggalan Belanda. Warga ingin mengangkat kawasan ini sebagai destinasi dan dikenal lebih luas," jelas Henry kepada Tribunjatim.com.

Festival yang dihadiri ratusan pengunjung ini berlangsung meriah. Para pengunjung menyaksikan proses pengolahan kopi rakyat secara manual. Mulai dari petik kopi, roasting manual, hingga pemisahan biji kopi dengan kulitnya.

Kapolri Naikkan Pangkat 2 Anggota yang Jadi Korban Pembacokan Teroris di Surabaya

UPDATE Pasca Kerusuhan di Manokwari, 4 Kepala Suku Besar di Papua Temui Sesepuh KKSS

Jaringan Gus Durian Jatim Kecam Kasus Rasial Mahasiswa Papua, Desak Aparat Usut Tuntas Kasus Ini

Hal ini justru menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan. Seperti yang diungkapkan oleh Emilio dari Utrecht, Belanda. Meski dia penikmat kopi, ternyata baru mengetahui bentuk pohon kopi setelah plesir ke Banyuwangi kali ini. Tak hanya itu, dia juga menikmati proses pengolahan kopi tradisional yang tak pernah ditemui sebelumnya.

"Saya baru tahu bentuk pohon kopi ya sekarang ini. Ternyata bentuk begini ya. Kalau di Belanda, saya pakai mesin roasting, namun di sini saya mencoba secara manual tanpa mesin. Saya makin mengapresiasi kopi. Tak heran bila kopi mahal, ternyata pengolahannya butuh proses yang panjang," ujar Emilio kepada Tribunjatim.com.

Pria ini juga mengaku senang dengan lokasi Sumbergedor. Selain mengandung nilai sejarah, bukit yang dikelilingi kebun kopi ini sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir dalam festival tersebut mengaku sangat mengapresiasi inisiatif warga Gombengsari yang menggelar festival untuk mempromosikan wisatanya. Menurut Anas, prakarsa ini menunjukkan semangat warga dalam menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata.

"Pemkab akan mendukung ide ini. Apalagi ada bangunan bersejerah yang berdiri di dalamnya. Ini merupakan potensi destinasi baru yang besar. Tidak hanya agro wisata, namun ada wisata heritage di dalamnya," kata Anas. (Haorrahman/Tribunjatim.com)

 

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved