Terkuak, Duduk Perkara Aksi Demontrasi Mahasiswa Papua di Kota Malang yang Berujung pada Kerusuhan

Duduk perkara aksi demontrasi Mahasiswa Papua di Kota Malang yang berujung pada kerusuhan terkuak

Terkuak, Duduk Perkara Aksi Demontrasi Mahasiswa Papua di Kota Malang yang Berujung pada Kerusuhan
SURYA.CO.ID/HAYU YUDHA PRABOWO
BENTROK DEMONTRASI - Polisi membubarkan massa aksi dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kahuripan, Kota Malang, Kamis (15/8/2019). Bentrok dua kubu massa aksi dari AMP dan Aliansi Malang Kondusif serta warga ini menyebabkan sejumlah massa aksi dari dua kubu serta aparat keamanan mengalami luka-luka akibat aksi saling lempar batu . 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aminatus Sofya

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pada tanggal 12 Agustus 2019, beberapa anggota dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) mendatangi Mapolres Malang Kota untuk memberikan pemberitahun terkait aksi demonstrasi mereka.

Rencananya, keduanya bakal menggelar aksi peringatan 57 tahun perjanjian New York dan menyuarakan pembebasan Papua Barat pada 15 Agustus.

"Kami tidak memberikan tanda terima pemberitahuan karena di situ tidak ada penanggung jawab. Kami tanya perihal materi aksi, mereka juga tidak mau menjelaskan," ujar Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, Selasa (20/8/2019).

Bapak dan Anak di Malang Ancam Tikam Tetangga Pakai Bambu Runcing 1,5 meter, Ditahan Polsek Pakis

Polisi menurut Asfuri, tetap melaksanakan pengamanan saat hari pelaksaan aksi. Kala itu, diterjunkan 200 personel yang berjaga di Balai Kota Malang, Stadion Gajayana, dan Alun-alun Kota Malang.

Ketika massa aksi AMP dan Front Pembebasan Papua Barat berkumpul di Stadion Gajayana, mereka dihadang oleh kumpulan orang yang mengaku masyarakat Kota Malang. Kumpulan orang itu, menolak aksi mahasiswa Papua.

"Saat menolak, mereka terlibat cekcok dan kemudian terjadi benturan. Saling lempar batu," katanya.

Asfuri mengatakan polisi menengahi bentrok antara mahasiswa Papua dan warga. Mahasiswa Papua kemudian direlokasi ke Jalan Kahuripan dan berorasi di sana.

Sekitar 20 menit melakukan orasi, demonstrasi AMP dan FRI-WP dibubarkan kepolisian. Massa aksi diangkut menggunakan truk.

"Kami bubarkan karena mengganggu ketertiban. Orasi mereka juga berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa," ujarnya.

M Sanusi akan Gandeng Universitas Negeri Malang untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Juru Bicara AMP Malang, Wenny Hubby mengatakan sembilan orang anggotanya mengalami luka berat akibat kericuhan.

Menurut Wenne, massa AMP dan FRI-WP dipukul menggunakan helm dan diejek dengan nama binatang.

"Ada polisi di situ tapi mereka tidak mengamankan kami. Akibatnya dari pihak kami ada korban jiwa," ujar Wenne, Kamis (15/8).

Wenne meminta kepolisian menindak tegas pelaku penyebab kericuhan dan rasisme yang dialamatkan kepada AMP dan FRI-WP.

Kata dia, penghadangan yang dilakukan warga tidak sepatutnya terjadi sebab menyampaikan pendapat di ruang publik di lindungi Undang-undang.

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved