Analisa BMKG Juanda Terkait Jatim Alami Kekeringan Kritis, ACT Distribusi 1 Juta Liter Air Bersih

Menurut analisa BMKG Juanda, Jawa Timur harus mempersiapkan diri, setidaknya tiga bulan ke depan, dalam menghadapi kemungkinan kekeringan

Analisa BMKG Juanda Terkait Jatim Alami Kekeringan Kritis, ACT Distribusi 1 Juta Liter Air Bersih
SURYA.CO.ID/DELYA OCTOVIE
Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberangkatkan truk-truk tangki berisi air yang akan didistribusikan di wilayah-wilayah berpotensi kekeringan kritis, Kamis (22/8/2019). Distribusi 1 juta liter air bersih ini akan dilakukan secara bertahap. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menurut analisa Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Jawa Timur (Jatim) harus mempersiapkan diri, setidaknya tiga bulan ke depan, dalam menghadapi kemungkinan kekeringan skala besar.

Teguh Tri Susanto, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda, memaparkan hasil analisisnya, yang menunjukkan bahwa sifat hujan di bulan Agustus, September dan Oktober diprediksi berada di bawa normal hingga 90 persen.

"Analisis kami di bulan Juni dan sebelumnya, itu curah hujan Jatim di bawah normal, hampir 95,7 persen. Di bulan Agustus, sifat hujan yang di bawah normal itu 70 persen ke atas. Perkiraan September masih di bawah normal 80 persen, Oktober 90 persen," jelasnya dalam konferensi pers Kekeringan Mematikan bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Bebek Kacong Gayungsari, Kamis (22/8/2019).

Kemarau Panjang, PDAM Tulungagung Harus Operasikan Pompa Air Cadangan

Ia menyebut, perkiraan peralihan musim baru akan dirasakan pada bulan November, sehingga sebagian kawasan Jatim akan memasuki musim hujan saat itu.

Lewat analisa ini, Teguh mengatakan, masyarakat perlu waspada potensi kebakaran besar mulai Agustus-September.

"Potensi kebakaran sangat mungkin terjadi di sebagian besar wilayah Jatim," ucapnya.

Pernyataan ini diamini oleh Suban Wahyudiono, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, yang mengatakan bencana Jatim saat kemarau adalah kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Dari data yang ia miliki, dari 38 kota atau kabupaten di Jatim, 24 di antaranya berpotensi tinggi kering kritis.

"Itu berarti, ada 180 kecamatan dan 566 desa. 199 desa malah tidak ada potensi air sama sekali," ujarnya.

Siasati Musim Kemarau, Dirjen Hortikultura Pacu Pengembangan Varietas Cabai Unggul di Probolinggo

Beberapa daerah yang desanya terancam kering kritis adalah Sampang sebanyak 67 desa, Tuban 55 desa, kemudian 45 desa di Pacitan, Ngawi dan Lamongan.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved