Liga Indonesia

Didenda Rp 150 Juta, Panpel Arema FC : Pertandingan di Stadion Kanjuruhan Ditulis Stadion Gajayana

Surat hasil sidang Komdis PSSI sudah diterima Arema FC. Surat bernomor 075/L1/SK/KD-PSSI/VIII/2019 itu berisi tentang hukuman denda sebesar Rp 150

Didenda Rp 150 Juta, Panpel Arema FC : Pertandingan di Stadion Kanjuruhan Ditulis Stadion Gajayana
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Aremania mendukung Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2019 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (15/8/2019). 

 TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Surat hasil sidang Komdis PSSI sudah diterima Arema FC. Surat bernomor 075/L1/SK/KD-PSSI/VIII/2019 itu berisi tentang hukuman denda sebesar Rp 150 juta karena tingkah laku buruk suporter saat menjamu Persebaya Surabaya, Kamis (15/8/2019) lalu.

"Bahwa pada tanggal 15 Agustus 2019 bertempat di Stadion Gajayana. Malang telah bertangsung pertandingan Liga 1 2019 antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Dimana supporter Arema FC terbukti melakukan pelemparan botol ke dalam lapangan dari tribun barat serta penyaIaan flare pada tribun selatan dan diperkuat dengan bukti-bukti yang cukup untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin," isi dari surat yang dikirim Komdis PSSI.

Apabila sebelumnya Arema FC menerima sanksi dan hukuman yang telah diputuskan Komdis, untuk kali ini Arema FC masih berkoordinasi untuk melakukan koreksi karena menilai isi dari surat putusan tersebut tidak faktual.

Arema FC meyakini jika saat pertandingan lawan Persebaya, aremania tak menyalakan smoke bomb dan flare seperti yang disampaikan dalam surat keputusan Komdis.

Komdis PSSI Keluarkan Sanksi, Arema FC dan Persebaya Surabaya Kena Sanksi Denda

Kecurigaan Jokowi Terhadap Penumpang Gelap Saat Kerusuhan Papua, Siapakah yang Dimaksud?

Pura-pura Ingin Salat Isya, Sejoli di Malang Tertangkap CCTV Curi Motor di Depan Masjid Al Ishlah

"Lawan Persebaya itu partai Bigmatch yang mngundang animo besar. Jumlah keamanan yang dikerahkan dua ribu personel. 80 persennya difokuskan di dalam stadion. Sangat maksimal keamanan melakukan pengamanan termasuk mencegah masuknya flare dkk. Sepanjang laga, panpel pihak keamanan dan match com tidak melihat adanya flare dan smoke bomb bahkan MC laga Bang Ovan meyampaikan terima kasih dan kondisi itu untuk dipertahankan di laga laga lainnya untuk menghindari sanksi," kata Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris, Kamis (22/8/2019).

"Namun ternyata Komdis menurut hasil laporan melihat ada flare. Karena itu kami menyanggahnya.Dan mencoba mencari tahu. Sebab tidak seperti biasanya sebelum Komdis bersidang kita dimintai klarifikasi seperti sidang-sidang sebeumnya. Namun ini tidak ada sama sekali. Kami baru tahu setelah baca kelutusan Komdis hari ini. Setelah ditelusuri ada klaim fakta smoke bomb yang nyala dalam hitungan detik usai laga berakhir. Namun tida diketahui baik perangkat dan panpel namun klaim diketahui salah satu utusan LIB yang ditugaskan di Malang," bebernya.

Selain itu, venue pertandingan yang digelar di Stadion Kanjuruhan ditulis di Stadion Gajayana dalam surat keputusan Komdis. Hal ini juga yang membuat Arema FC bimbang dan menilai surat Komdis tidak faktual.

"Yang kedua kami panpel jadi bimbang sebab dalam redaksional SK Komdis fakta itu ditulis terjadi di Stadion Gajayana lantas laga yang dimaksud yang mana. Selain juga disebutkan bahwa dalam surat adalah pelanggaran Flare, namun fakta dilapangan menyebutkan smoke bomb," ujarnya

"Kesimpulan kami SK Komdis ini menjadi tidak faktual dengan yang terjadi sesungguhnya. Dan pengambilan bukti bukti fakta terlalu tergesa gesa dilaporkan tanpa klarifikasi dan konfirmasi, bagaimana jika faktanya asap justru dari luar stadion, apalagi dilihat dari pandangan jauh dan subyektif dari pandangan seseorang. Prinsip Arema FC sepakat bahwa flare dll adalah zero tolerance tapi saat melaporkan fakta di lapangan harus seobyektif mungkin untuk menghindari kesalahan lapor dan perlu diklarifikasi langsung usai pertandingan, juga faktor penangannnya juga harus menjadi penilaian obyektif sebelum mengambil keputusan. Sebab keputusan yang keliru baik secara redaksional dan faktual bisa memicu pro kontra publik yang imbasnya berdampak pada kepercayaan publik," tutur Haris.(myu/Tribunjatim.com)

Penulis: Dya Ayu
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved