Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf Kembali Raih Penghargaan Sebagai Kepala Daerah Inovatif

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf kembali dinobatkan sebagai Kepala Daerah Inovatif 2019. Predikat tersebut diberikan oleh Koran Sindo

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf  Kembali Raih Penghargaan Sebagai Kepala Daerah Inovatif
(Surya/Galih Lintartika)
Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf kembali dinobatkan sebagai Kepala Daerah Inovatif 2019. 

Terkait dengan permasalahan perempuan dan anak, Bupati Irsyad menyebutkan, banyak sekali program yang dilaksanakan dalam rangka menekan kasus kekerasan terhadap perempuan hingga pelecehan seksual terhadap anak.

Bahkan, setiap desa sudah dibangun pos pendampingan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tujuannya supaya ada jembatan dalam menyelesaikan potensi kekerasan maupun pelecehan seksual. Minimal untuk menghindari semakin melebarnya kasus tersebut.

“Saya tegaskan juga bahwa ada cantolan anggaran untuk dana desa yang bisa dipergunakan untuk sosialisasi masalah kekerasan terhadap anak dan perempuan. Bukan hanya pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana saja, tapi juga pembangunan mental dan sumber daya manusia. Intinya APBD Desa selaras dengan APBD Kabupaten Pasuruan. Nah APBD Kabupaten Pasuruan juga selaras dengan APBD Propinsi dan APBN,” terangnya kepada Tribunjatim.com.

Lebih lanjut Bupati Irsyad menganggap bahwa masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak harus disikapi dengan serius. Artinya, sebisa mungkin diminimalisir dengan cara menggandeng semua pihak.

Mulai dari tokoh masyarakat, orang tua, kepala desa, camat, dunia pendidikan, LSM, Ormas sampai dengan OPD sebagai penggerak utama dari program anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pasuruan.

“Jangan sampai ada kasus lagi yang menjadikan anak dan perempuan sebagai korban kekerasan. Apalagi di jaman sekarang ini, tuntutan zaman ditambah dengan kecanggihan teknologi membuat kita harus bisa balance. Tetap hati-hati dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita,” jelasnya.

Di sisi lain, Yetty Purwaningsih selaku Plt Kepala Dinas KB-PP Kabupaten Pasuruan menjelaskan, sejak tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2019, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak telah menurun secara signifikan. Hingga akhir tahun 2018, tercatat hanya 3 laporan kasus KDRT dan 12 kasus kekerasan terhadap anak. Selain kesadaran akan pentingnya melaporkan kejadian, pihaknya terus melakukan upaya jemput bola agar kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan bisa terus ditekan.

“Memang ada laporan, kebanyakan kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh anak-anak. Korban sudah kita dampingi supaya bisa segera pulih dan bisa beraktifitas sedia kala, dan itu akan terus kita dampingi meskipun kita masih membuka ruang konseling sampai jemput bola ke semua lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dalam Inovasi Sakera Jempol, ada beberapa program yang terus dikembangkan. Diantaranya Fanspage Plus Molin (Mobil Perlindungan Perempuan dan Anak ), Hotline Jempol (Hotline Jemput Bola), Four Past (cepat, terdeteksi, cepat terlapor, cepat tertangani dan cepat terehabilitasi), maupun Ada Jempol (Advokasi Jemput Bola) yang merupakan pendampingan terhadap korban kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Pasuruan.

“Sakera Jempol merupakan system yang sederhana, unik namun komprehensif dan aplikatif, mulai dari promotif, prefentif hingga rehabilitative dari korban kekerasan perempuan dan anak yang mampu menjawab permasalahan terkait dengan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini terbukti dari 3 indikator, yakni penurunan KDRT, peningkatan laporan kasus yang mengindikasikan bahwa kesadaran akan pentingnya melaporkan kasus kekerasan menjadi lebih baik, dan tidak membutuhkan biaya yang sangat besar namun dampaknya jauh lebih besar. Kita bersyukur banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan harapan kita,” ungkapnya. (lih/Tribunjatim.com)

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved