Kasus Penganiayaan Santri Hingga Tewas, Ponpes Mambaul Ulum Minta Maaf, Bakal Perketat Awasi Santri

Kasus Penganiayaan Santri Hingga Tewas, Ponpes Mambaul Ulum di Mojokerto Minta Maaf, Bakal Perketat Awasi Santri.

Kasus Penganiayaan Santri Hingga Tewas, Ponpes Mambaul Ulum Minta Maaf, Bakal Perketat Awasi Santri
TRIBUNJATIM.COM/FEBRIANTO RAMADANI
Agus Solahuddin( Nomor satu dari kiri) memberikan keterangan bersama Gus Didin (Pengasuh ponpes mambaul ulum putra) dalam konferensi pers Sabtu (24/8/2019) 

Kasus Penganiayaan Santri Hingga Tewas, Ponpes Mambaul Ulum Minta Maaf, Bakal Perketat Awasi Santri

TRIBUNMOJOKERTO.COM, MOJOSARI - Terkait kasus penganiayaan, kuasa hukum Ponpes Mambaul Ulum Agus Solahuddin menyebut, kejadian tersebut baru pertama kali dialami oleh pondok pesantren yang berada di Jalan Awang-awang, kecamatan Mojosari, kabupaten Mojokerto, tersebut.

"Selama 68 tahun Ponpes Mambaul Ulum berdiri, sama sekali belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Tidak ada satupun pondok pesantren yang mengajarkan tentang anarkisme maupun kekerasan," ucapnya.

Santri Senior Ponpes Mambaul Ulum Mojokerto Jadi Tersangka, Hasil Otopsi Tengkorak Korban Pecah

BREAKING NEWS: Diduga Kena Percikan Mesin Las, Pabrik Paku di Mojokerto Hangus Terbakar

Banyak Mobil yang Parkir di Jalur Sepeda Ganggu Pesepeda, Ini Keluhan Warga Kota Mojokerto

Bahkan, lanjut Agus, apabila ada santri yang melanggar aturan pondok. Guru hanya memberi hukuman ringan. Seperti menghafalkan surat pendek, dan praktek ibadah.

"Ada denda uang. Tapi, denda tersebut dikumpulkan pada akhir tahun untuk kegiatan santri dan santriwati pondok pesantren Mambaul Ulum," imbuhnya.

Agus juga mengatakan, selain sebagai santri senior, WN diberi kewenangan sebagai ketua kamar yang bertugas sebagai mengawasi kebersihan kamar, mengatur jadwal piket kebersihan kamar.

"Karena korban dan pelaku yang masih muda. Sama sama belum bisa mengontrol emosinya. Sehingga pondok dalam hal ini, meminta maaf yang sebesar besarnya, kepada para wali santri, atas kelengahan atau kelalaian untuk mengawasi santri," katanya.

Agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, lanjut Agus, pihak pondok akan meningkatkan dan memperketat pengawasan santri.

Agus menambahkan, pelaku menganiaya korban lantaran kesal karena sering keluar masuk tanpa seizin pelaku.

"Korban sudah diingatkan oleh pelaku agar meminta izin terlebih dahulu. Diingatkan dengan cara yang halus. Tapi korban tetap keluar masuk tanpa meminta izin," pungkasnya.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved