Bank Indonesia Kerja Sama dengan Pemprov Jatim Fasilitasi Pemotongan Hewan yang Halalan Toyyiban

Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur menjalin kerjasama dengan Pemprov Jatim untuk memfasilitasi percontohan pemotongan hewan ternak

TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA SAKTI
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah saat ditemui usai rapat terbatas dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Rabu (28/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur menjalin kerjasama dengan Pemprov Jatim untuk memfasilitasi percontohan pemotongan hewan ternak yang halal dan baik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah mengungkapkan kerjasama ini bertujuan untuk mengembangkan mata rantai ekonomi halal di Jawa Timur khususnya untuk di bidang peternakan.

"Jadi kita ingin proses penyembelihan mulai unggas sampai ke sapi ini halal dan toyyiban. Tidak hanya halal tapi juga harus bersih dan kualitasnya baik," ucap Difi, saat ditemui usai rapat terbatas dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Rabu (28/8/2019).

Tri Susanti Jelaskan Kronologi Kedatangannya ke Asrama Mahasiswa Papua: Saya Sampai Sana Sudah Ramai

Seusai Ditetapkan Jadi Tersangka, Rumah Tri Susanti di Mulyorejo Surabaya Ramai Dikunjungi Kerabat

Untuk pilot project dari program ini akan difokuskan di pasar tradisional di Kota Malang.

"Kita survei dulu untuk tentukan di mana titik strategisnya," lanjutnya

Yang pasti, tempat pemotongan hewan syariah ini berada di pasar tradisional sehingga tidak berhubungan dengan Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di Kota Malang.

"Kalau di RPH kan sudah bagus, ada nomor kontrol veteriner sedangkan yang kita perhatikan adalah di pasar tradisional, misalnya pemotongan ayamnya bagaimana," ucap Difi.

Dengan cara memotong yang benar, Difi melanjutkan kualitas daging dari hewan tersebut juga akan meningkat. Misalnya bisa menjadi lebih empuk dan kesat.

"Kalau selama ini misalnya sapi dijual dengan daging berbentuk tetelan nanti bisa juga dijual berbentuk sirloin dan tenderloin, jadi bukan hanya menjamin kehalalannya tapi juga pendapatan peternak sapi meningkat," kata Difi.

Jika nantinya program ini sudah mempunyai bentuk standarisasi dan sertifikasi, harapannya bisa di replikasi di kabupaten/kota yang lain, bahkan provinsi lain.

"Sebenarnya kualitas sapi kita ini kan tidak kalah dengan sapi impor itu, tapi mungkin cara pemotongannya yang kurang tepat," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved