Simbol Kebangkitan Poros Selatan, Perayaan Hari Jadi ke-825 Trenggalek

Nuansa anyar perayaan Hari Jadi Trenggalek. Di usia ke-825 itu, budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terasa kental. Setidaknya, itu tergambar

Simbol Kebangkitan Poros Selatan, Perayaan Hari Jadi ke-825 Trenggalek
SURYA/AFLAHUL ABIDIN
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin didampingi beberapa pejabat meletakkan batu pertama penataan kawasan Pantai Prigi, Jumat (30/8/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Nuansa anyar perayaan Hari Jadi Trenggalek. Di usia ke-825 itu, budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terasa kental. Setidaknya, itu tergambar dari pakaian adat, bregodo, dan kereta kencana yang dipakai dalam arak-arakan perayaan.

Para peserta menggunakan pakaian adat sesuai dengan arahan utusan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sementara pregodo, atau pasukan prajurit keraton saat arak-arakan, turut meramaikan pesta hari jadi. Kereta kencana yang dinaiki Bupati dan keluarga juga didatangkan dari keraton yang sama.

Pemilihan adat dalam perayaan hari jadi tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Trenggalek ingin ulang tahunnya menjadi simbol kebangkitan poros selatan Pulau Jawa.

“Pada hari jadi ini, kami kerja sama dengan pemerintah Jogja, dalam hal ini Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, ini awal atau pembuka jalan bagi kemajuan ekonomi di wilayah selatan Jawa, khususnya Trenggalek,” kata Bupati Mochamad Nur Arifin, usai prosesi hari jadi.

Inilah Rahasia Belajar Nastiti, Doktor Muda Unair Raih IPK 4.0

Babak Pertama Bhayangkara FC Vs Persebaya, Oktafianus Cetak Gol, David da Silva Sumbang Assist

Pria yang akrab disapa Mas Ipin itu menerangkan, pemilihan kerja sama dengan Yogjakarta bukan tanpa alasan. Salah satu dalilnya, yakni rencana tersambungnya Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan antara lain Yogjakarta-Trenggalek.

Kabupaten Trenggalek tahun ini membangun jalan di pesisir selatan yang menghubungkan Kecamatan Prigi, Munjungan, hingga Panggul. Pengaspalan jalan baru itu menyambut rencana pembangunan JLS penghubung Tulungagung-Prigi.

“Harapannya, ini pertanda poros nasional Jogja-Prigi-Malang lewat koridor selatan berjalan dengan baik karena Trenggalek sudah punya kerja sama yang konkret dengan Jogja,” imbuh Mas Ipin Laporan Wartawan TribunJati.com, Nur Ika Anisa.

Salah satu pendekatan yang dijalankan dalam kerja sama Trenggalek-Yogjakarta, kata dia, adalah sejarah dan budaya.

“Jadi memang, Panggul dan Sumbreng, sebutan Kecamatan Munjungan zaman dulu] termasuk wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningkrat,” tuturnya Laporan Wartawan TribunJati.com, Nur Ika Anisa.

Prosesi perayaan hari jadi berlangsung dari pagi hingga siang hari. Pusaka-pusaka Trenggalek dikirab dari daerah Kamulan, Kecamatan Durenan menuju pusat kota. Setelah itu, pusaka dan peserta kirab berangkat bareng dari Jalan Ronggowarsito menuju pendopo.

Setelah berbagai prosesi selesai, perayaan ditutup dengan perebutan tumpeng agung, hasil bumi, pupuk, dan air yang dikumpulkan dari 14 mata air seluruh wilayah Trenggalek. Ratusan warga ikut berdesak-desakan demi mendapat bagian.

“Setiap tahun saya selalu ikut berebut tumpeng di sini. Ingin dapat berkah. Harapannya ke depan Trenggalek bisa lebih sejahtera lagi,” kata Ngatini, salah satu warga Trenggalek yang hadir. (aflahul abidin/Tribunjatim.com)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved