Gunakan Truk, Tiga Sekawan dari Malang Embat Belasan Kayu Sengon di Hutan Perhutani di Siang Bolong

Gunakan Truk, Tiga Sekawan dari Malang Embat Belasan Kayu Sengon di Hutan Perhutani di Siang Bolong.

Gunakan Truk, Tiga Sekawan dari Malang Embat Belasan Kayu Sengon di Hutan Perhutani di Siang Bolong
SURYA/ERWIN WICAKSONO
Ketiga tersangka beserta barang bukti saat berada di Polres Malang, Senin (2/9/2019). 

Gunakan Truk, Tiga Sekawan dari Malang Embat Belasan Kayu Sengon di Hutan Perhutani di Siang Bolong

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - 14 batang kayu sengon diamankan Satreskrim Polres Malang pekan lalu. Belasan kayu sengon tersebut didapat dari 3 orang tersangka.

Mereka adalah, Taseri (60) dan Suyitno (47)  warga Taman Satrian, Kecamatan Tirtoyudo serta Gimun (42) warga Desa Pamotan, Kecamatan Dampit Malang.

BREAKING NEWS: Korsleting Listrik Aquarium, Ruko Sawojajar Malang Ludes Terbakar, si Pemilik Pingsan

Lantik 37 Kepala Sekolah, Wali Kota Malang Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Murid

BKD Malang Usulkan Kuota Rekrutmen CPNS untuk 600 Pegawai Honorer

Kanit I Tipidum Satreskim Polres Malang Iptu Ronny Margas menerangkan, tiga sekawan tersebut bahu membahu melakukan pencurian kayu. Mereka menyasar kayu sengon karena bernilai jual tinggi.

Lokasi pencurian berada di petak 85 a RPH Dampit. Satu unit truk Mitsubishi dengan Nopol DD 9773 XA menjadi sarana para tersangka mengangkut kayu hasil curian.

"Mereka kami tangkap saat berada di jalan raya tambak rejo kecamatan wajak. Perannya, tersangka Taseri sebagai penjual kayu. Suyitno sebagai penebang dan Gimun sebagai supir," ujar Ronny ketika dikonfirmasi, Senin (2/9/2019).

Ronny menambahkan, usai menebang 14 pohon komplotan pencuri kayu tersebut akan menjual kayunya di salah satu pabrik di daerah Wajak.

"Keseluruan mereka jual Rp 4 juta. Kami tangkap saat hendak menjual kayunya. Pengakuannya baru sekali ini melakukan pencurian. Kasusnya masih kami kembangkan," jelas mantan Kanit Reskrim Polsek Bululawang itu.

Akibat perbuatannya, ketiga tersangka dijerat pasal 82 dan atau pasal 83 UU No 18 tahun 2013, tentang pencegahan dan pemberantasan pengerusakan hutan.

Di sisi lain, tersangka Taseri mengaku tidak menyadari bahwa wilayah itu milik Perhutani. Ia menebang pohon karena desakan ekonomi. Bersama rekannya, mereka kompak menggasak kayu di kawasan terlarang.

"Baru sekali ini kami melakukan pencurian. Waktu siang hari kami tebang kayu tersebut," ungkap Taseri tertunduk.

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved