Pengacara Korban Kekerasan Seksual Anak di Mojokerto Lakukan Pendampingan Secara Psikologis

BQ, korban kekerasan seksual anak, bisa melakukan aktivitas seperti sekolah di taman kanak-kanak. Pengacara dampingi korban.

Pengacara Korban Kekerasan Seksual Anak di Mojokerto Lakukan Pendampingan Secara Psikologis
Tribun Jogja/Suluh Pamungkas
ILUSTRASI - Pengacara Korban Kekerasan Seksual Anak di Mojokerto Lakukan Pendampingan Secara Psikologis 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - BQ, korban kekerasan seksual anak, yang dilakukan terpidana korban kekerasan seksual anak di Mojokerto, Muh Aris (20), secara kasat mata, bisa melakukan aktivitas seperti sekolah di taman kanak kanak, bermain dan ibadah pada umumnya. Hal tersebut dijelaskan oleh kuasa hukumnya, Hamidah Anam Anis.

Hamidah Anam Anis, mengatakan, usai vonis hakim kasus tersebut, pihaknya melakukan pendampingan secara psikologis terhadap korban dan keluarganya.

"Kami pertama akan melakukan assesment atau penilaian kejiwaan terhadap korban dan juga keluarga. Terutama kedua orang tuanya agar bisa kami ketahui sejauh mana trauma yang dialami oleh keluarga maupun korban," ujarnya kepada Surya Senin siang (2/9/2019).

Konservasi Penyu di Jengglungharjo Butuh Lokasi Penetasan Memadai dan Aman dari Predator Biawak

Hamidah Anam Anis juga menjelaskan, kondisi BQ usai mendapatkan peristiwa pelecehan seksual dari terpidana tersebut mengalami perbedaan.

"Kondisi korban saat ini lebih pendiam. Berbeda dengan sebelumnya. Tetap ceria hanya saja tidak seceria dulu sebelum menjadi korban kasus kekerasan seksual. Ini menjadi perhatian kami untuk mengembalikan keceriaan korban. Tentu dengan bantuan orang terdekatnya seperti kedua orang tua dan keluarganya," jelasnya.

Agar anak anak tidak menjadi korban kasus kekerasan seksual anak, lanjut Hamidah Anam Anis, peran keluarga sangat penting dalam mencegah peristiwa tersebut.

David da Silva Siap Bela Persebaya Hadapi Bhayangkara FC, Yeyen Tumena: Dia Predator

"Anak yang trauma akibat kekerasan seksual membutuhkan waktu pemulihan yang lama dengan anak yang trauma akibat bully dari teman temannya. Untuk mempercepat pemulihan trauma akibat kekerasan seksual anak, dibutuhkan dorongan dari lingkungan lainnya. Kalau dari lingkungan sekolah, gurunya juga ikut serta mempercepat pemulihan," lanjutnya.

Selain itu, lanjut Hamidah Anam Anis, yang paling penting adalah orang tuanya yang setiap hari harus mengajak kumpul dan komunikasi terhadap korban.

"Secara kasat mata, BQ bisa menjalankan aktivitas pada umumnya. Bisa bermain, sholat, sekolah di taman taman kanak, Bahkan adiknya yang masih kecil juga ceria dan suka berbicara," katanya.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved