Mayoritas Petani Garam Nahdliyyin PWNU Jatim Tersinggung Pernyataan Jokowi Soal Kualitas Garam

PWNU Jawa Timur menyayangkan pernyataan Presiden Jokowi yang menilai garam produksi Madura tidak lebih baik dibandingkan produksi NTT dan Australia.

Mayoritas Petani Garam Nahdliyyin PWNU Jatim Tersinggung Pernyataan Jokowi Soal Kualitas Garam
TRIBUNJATIM.COM/SOFYAN ARIF CANDRA SAKTI
Ketua BKNU, Mahmud Mustain (kanan), saat konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur, Rabu (4/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - PWNU Jawa Timur menyayangkan pernyataan Presiden Jokowi yang menilai garam produksi Madura tidak lebih baik dibandingkan produksi NTT dan Australia.

Menurut Badan Kemaritiman Nahdlatul Ulama (BKNU) PWNU Jawa Timur pernyataan tersebut menyakiti masyarakat petani garam.

"Cukup membuat kami mewakili masyarakat Tambak garam tidak happy, tersinggung bahasa kasarnya tapi kami tidak mau mengatakan kasar seperti itu," ucap Ketua BKNU, Mahmud Mustain, saat konferensi pers di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur, Rabu (4/9/2019).

Jawaban Kejati Soal Penolakan PWNU Jatim Terkait Hukuman Kebiri untuk Predator Anak: Bukan Pilihan

Mahmud melanjutkan, petani garam sudah bekerja sama dengan kementerian untuk meningkatkan kualitas garam yang bagus. Bahkan petani garam di Madura sudah tidak yang memproduksi garam kualitas 3 (KW3) karena sudah tidak laku dijual baik untuk konsumsi maupun industri.

"Harapannya adalah supaya ada klarifikasi supaya rasa duka kami itu diobati dan keadaan real yang bisa disampaikan langsung di masyarakat," ucap Mahmud.

Dosen Laboratorium Energi Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini pun mengungkapkan sample garam yang ditunjukkan kepada Jokowi di NTT tidak seperti produksi garam petani garam di Madura.

"Intinya pemerintah bisa langsung mengecek saat kunjungan ke Madura," kata Mahmud.

PWNU Jatim Tolak Kebiri Kimia Ditanggapi Kejati Jatim: Itu Hukuman Atas Perbuatan Terpidana

Kedepan Mahmud berharap pemerintah bisa. menjadikan Madura sebagai sentra khusus garam atau Kawasan Ekonomi Khusus Garam untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.

"Mayoritas petambak garam adalah Nahdliyin, warga kami. Sehingga kami sangat berkepentingan untuk mengembangkan ini," ucap Mahmud.

"Selama ini belum ada rencana itu, padahal dari zaman dulu kita kenal Madura itu adalah Pulau Garam," lanjutnya.

Keinginan untuk mewujudkan KEK Garam tersebut menurut Mahmud seharusnya bisa segera diwujudkan karena sudah ada support dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pembuatan desain KEK Garam.

"Kita juga sudah ada juga partner di Universitas Trunojoyo Madura soal studi garam. Sudah kursus sertifikasi di sana. Jadi saya kira sudah kuat KEK di Madura bisa diwujudkan," ucapnya.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved