Ada Fenomena 'Hari Tanpa Bayangan' di Indonesia, Surabaya Terjadi 12 Oktober, Suhu Panas 34 Derajat

Ada Fenomena 'Hari Tanpa Bayangan' di Indonesia, Surabaya Terjadi 12 Oktober, Suhu Panas 34 Derajat Celcius.

Ada Fenomena 'Hari Tanpa Bayangan' di Indonesia, Surabaya Terjadi 12 Oktober, Suhu Panas 34 Derajat
TRIBUNJATIM.COM/KUKUH KURNIAWAN
Prakirawan cuaca BMKG Juanda, Rendy Irawadi saat memantau kondisi cuaca, Senin (9/9/2019). 

Ada Fenomena 'Hari Tanpa Bayangan' di Indonesia, Surabaya Terjadi 12 Oktober, Suhu Panas 34 Derajat

TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Fenomena "hari tanpa bayangan" kembali dapat dirasakan masyarakat Indonesia.

Pasalnya, fenomena yang disebabkan oleh kulminasi matahari tersebut terjadi di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dan akan berlangsung pada bulan Oktober.

Prakirawan cuaca BMKG Juanda Rendy Irawadi mengatakan kulminasi atau transit adalah fenomena matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.

BREAKING NEWS: Diduga Kaleng Cat Meledak Kena Sinar Matahari, Rumah Kosong di Malang Terbakar

Hadapi Teriknya Matahari Surabaya, Pemkot Surabaya Punya Truk Penyejuk Aspal

Ramalan Kesehatan Zodiak Besok Rabu, 10 Juli 2019: Cancer Perlu Sinar Matahari, Mood Libra Kacau

"Saat deklinasi atau posisi matahari sama dengan lintang pengamat maka disebut Kulminasi Utama. Dan pada saat itu, matahari akan berada tepat di atas kepala pengamat," ujarnya kepada TribunJatim.com, Senin (9/9/2019).

Akibat fenomena tersebut, bayangan benda tegak akan terlihat seperti "menghilang" karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. "Itulah mengapa fenomena kulminasi utama ini dikenal sebagai hari tanpa bayangan," tambahnya.

Ia menjelaskan karena posisi Indonesia berada di sekitar ekuator maka kulminasi utama akan terjadi dua kali dalam setahun. Dan waktunya sendiri tidak jauh dari matahari saat berada di ekuator atau khatulistiwa.

"Kulminasi sendiri nantinya juga akan terjadi di kota Surabaya pada tanggal 12 Oktober pukul 11.15. Namun hanya berlangsung sebentar, selama dua menit saja," jelasnya.

Rendy juga menerangkan dampak yang terjadi akibat fenomena tersebut adalah cuaca pada siang hari cenderung lebih panas. Dengan suhu diperkirakan berkisar antara 30 - 34 derajat celcius.

"Oleh karena itu kita menghimbau agar tak dehidrasi, masyarakat membawa air minum yang cukup ketika beraktivitas luar ruangan. Dan karena cuaca lebih terik, sempatkan untuk berteduh sebentar untuk menormalkan kondisi suhu tubuh," bebernya.

Dirinya juga memastikan fenomena tersebut tidak berdampak sama sekali kepada dunia penerbangan maupun pelayaran.

"Untuk penerbangan, kita pastikan tidak ada dampak sama sekali. Begitu pula dengan pelayaran karena ombak tinggi biasanya terpengaruh dengan kondisi angin dan cuaca bukan posisi matahari," pungkasnya.

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved