Industri dan Pasar Kedai Kopi Makain Marak di Kota Surabaya, MacKenzie Pilih Main di Tiga Lini

Industri kedai kopi, baik kelas warung kopi (warkop) hingga kafe terus bertumbuh di kota Surabaya. Berbagai konsep dalam menyajikan minuman kopi

Industri dan Pasar Kedai Kopi Makain Marak di Kota Surabaya, MacKenzie Pilih Main di Tiga Lini
ahmad Zaimul Haq/suraya
KOPI OTENTIK - MacKenzie Coffee, café yang mengangkat cita rasa kopi yang cukup otentik dengan tag line Good Roast Fresh Brew Devine Cup. Kopi yang disajikan disini di-roasting sendiri, dan di-roasting di café ini, sehingga kelezatan, dan kesegaran dari biji-biji kopinya sangat bisa dipercaya. 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Industri kedai kopi, baik kelas warung kopi (warkop) hingga kafe terus bertumbuh di kota Surabaya. Berbagai konsep dalam menyajikan minuman kopi selalu menjadi daya tarik bagi konsumen secara stabil.

"Hal itu kami rasakan saat menjadi distributor produk biji kopi untuk warkop. Kami lakukan sejak Agutus 2018 lalu dan respon pasar warkop selalu tumbuh," ungkap R Yudhistira, Cafe Manager MacKenzie Coffe, Senin (9/9/2019).

Dengan rata-rata 100 kilogram (kg) per bulan, pasar warkop cukup memberi kontribusi yang besar. Selanjutnya dalam dua bulan terakhir, Mackenzie masuk ke pasar horeka (hotel, restauran, kafe).

Dan di bulan ini, lini outlet cafe mereka buka di kawasan HR Muhammad Surabaya Barat.

"Kami melihat potensi cafe kopi di kawasan ini cukup besar. Selanjutnya kami siapkan cafe lengkap dengan roasting produk," ungkap Yudhis kepada Tribunjatim.com.

Cafe yang baru dibuka ini, menelan investasi sekitar Rp 150 juta. Kehadiran outlet ini akan dilanjutkan dengan membuka usaha both bith dengan konsep "Coffe to go", yang ditargetkan 20-30 both di seluruh kota Surabaya.

Dishub Kota Surabaya Sebut Sudah Bolak-balik Tegur RSI Wonokromo untuk Bangun Tempat Parkir

Potensi Duet Armuji - Eri Cahyadi di Pilwali Kota Surabaya 2020, Bambang DH: Silahkan

300 Ton Tembakau Petani Sumenep Mangkrak, Banyak Gudang Pabrik Rokok Batasi Jumlah Pembelian

"Target both coffe ini akan kami segera kami mulai. Saat ini tren minum kopi tanpa duduk di cafe sedang menjamur dan kami optimis bisa mendapatkan pasar secara stabil," ungkap Yudhis kepada Tribunjatim.com.

Apalagi nilai lebih dari produk yang mereka sajikan adalah bahan baku biji kopi dari petani kopi Lumajang dan Bondowoso. Ada tiga jenis kopi yang disediakan, yaitu Arabika, Robusta dan blend atau campuran dari keduanya.

Untuk outlet dan both ditargetkan per hari bisa menjual 100 cup. Yudhis optimis target bisa tercapai, mengingat potensi pasar minuman berbahan dasar kopi yang semakin beragam.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Jatim, Bambang Sriono, menambahkan, jumlah permintaan biji kopi di Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengalami pertumbuhan 75 persen - 100 persen seiring dengan tren pertumbuhan bisnis coffee shop atau kedai kopi yang menjamur hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga mancanegara.

"Tingginya pertumbuhan permintaan biji kopi green bean masih belum dapat diimbangi dengan jumlah produksi kopi dari Jatim yang tahun lalu hanya mencapai 59.950 ton, terdiri dari Arabika 14.526 ton dan Robusta 44.974 ton," jelas Bambang secara terpisah.(Sri Handi Lestari/Tribunjatim.com)

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved