Kuncarsono, Pemerhari Cagar Budaya : Mendesak, Surabaya Perlu Badan Pengelolaan Cagar Budaya

Banyak potensi bahkan Kota Surabaya menjadi mutiara destinasi wisata berbasis cagar budaya. Banyak kawasan di Kota Pahlawan

Kuncarsono, Pemerhari Cagar Budaya : Mendesak, Surabaya Perlu Badan Pengelolaan Cagar Budaya
SURYA.co.id/Sri Handi Lestari/Dok. Kuncar Prasetyo
Plakat BCB Rumah Jalan Mawar 10 - 12. Rumah ini merupakan rumah radio Bung Tomo yang masuk kawasan cagar budaya Surabaya 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Banyak potensi bahkan Kota Surabaya menjadi mutiara destinasi wisata berbasis cagar budaya. Banyak kawasan di Kota Pahlawan ini masuk dalam kawasan cagar budaya. Begitu juga banyak pula tempat atau bangunan eksotik juga masuk cagar budaya.

Ada belasan bahkan lebih saat ini cafe, resto, hotel, hingga tempat nongkrong banyak berada bangunan cagar budaya. Namun keberadaannya tidak terintegrasi dan berjalan sendiri-sendiir.

"Soal Heritage, Kurang apa Surabaya coba. Kota Pahlawan ini hanya kurang pengelolaan. Perlu Badan Otoritas Pengelolaan Cagar Budaya sendiri agar potensi itu menjadi tersentuh maksimal," ungkap Kuncarsono Prasetyo, pemerhati Cagar Budaya Surabaya ini kepada Tribunjatim.com, Senin (9/9/2019).

Mantan wartawan Surya ini menyebut bahwa Surabaya Tidak perlu malu untuk meniru Jakarta dan Semarang. Dua kota ini sukses menjadikan kawasan potensi kota tua menjadi destinasi wisata paling dikenal. Bahkan Semarang selalu viral soal bangunan cagar budaya.

Kuncarsono Prasetyo menyebutkan, bahwa salah satu kunci keduanya sukses karena memiliki badan pengelola tersendiri. Pemkot sudah seharusnya memiliki badan otorita pengelolaan kawasan cagar budaya ini. Sebab ini sudah diatur dalam UU Cagar Budaya Tahun 2010.

Kuncarsono Prasetyo mencatat banyak kawasan di areal Kembang Jepun Kya Kya, Jalan Karet, Jalan Panggung, dan kawasan lain betebaran bangunan kuno. Begitu juga banyak cafe berada di bangunan cagar budaya.

Ada Cafe Tanamera House of Sampoerna, Coffee Toffee Kantor Pos Simpang, Zangrandi Es Krim, hotel olympic, Resto Bon Ami, dan masih banyak lagi. Keberadaan mereka menjadi magnet bagi pengunjung.

Cafe di bangunan cagar budaya yang tertata dan terawat, memiliki aura. Kekuatannya ada pada arsitektur dan sejarahnya. Ini menjadi kelebihan dibanding cafe lain.

M Sholeh Pasang Target 160 Ribu Dukungan di Pilwali Surabaya 2020, Optimistis Rampung November 2019

Dari Tiga Tewas Kecelakaan Inova Vs Bus di Nganjuk, Seorang Mahasiswa Asal Ponorogo Teridentifikasi

Juru Pemelihara Cagar Budaya di Jatim Dapat Tunjangan Bulanan dari Pemprov Jawa Timur

Pemkot seharusnya mendukung karena tanpa bantuan dana pemerintah masyarakat merevitalisasi sendiri bangunan cagar budaya itu.
"Pemilik cafe merawat dan merancang sendiri. Ini bentuk partisipasi warga Surabaya," kata Kuncar kepada Tribunjatim.com.

Diakui bahwa bentuk dukungan Pemkot Surabaya atas keberadaan bangunan cagar budaya itu sampai sekarang menurut Kuncar belum kongkrit. Pemkot disebut-sebut punya Tim Ahli Cagar budaya.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved