Banser-Ansor Blitar Nilai Penetapan Tersangka Tokoh NU Tak Prosedural, Malah Disidang Gegara Aset

Banser-Ansor Blitar Nilai Penetapan Tersangka Tokoh NU Tak Prosedural, Malah Disidang Gegara Aset.

Banser-Ansor Blitar Nilai Penetapan Tersangka Tokoh NU Tak Prosedural, Malah Disidang Gegara Aset
SURYA/SAMSUL HADI
Sejumlah perwakilan Banser dan Ansor menggelar aksi damai di depan Mapolres Blitar Kota, Kamis (12/9/2019) 

Banser-Ansor Blitar Nilai Penetapan Tersangka Tokoh NU Tak Prosedural, Malah Disidang Gegara Aset

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Perwakilan Banser dan Ansor menganggap penetapan tersangka terhadap dua tokoh masyarakat sekaligus tokoh NU di Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, H Isa Ansori dan M Nawawi, oleh Satreskrim Polres Blitar Kota, tidak prosedural.

"H Isa Ansori dan M Nawawi tidak ada di lokasi, tapi malah dijadikan tersangka kasus pengeroyokan oleh polisi. Sekarang keduanya sudah menjadi terdakwa dan menjalani persidangan perdana hari ini," kata Abdul Kholik, koordinator aksi usai berdialog dengan perwakilan Polres Blitar Kota, Kamis (12/9/2019).

Berkas Kasus Beres, Wanita Sebar Konten Hina Jokowi Ditahan Jaksa Blitar, Diancam Pidana 6 Tahun Bui

BREAKING NEWS Massa Banser-Ansor Demo Polres Blitar Kota Protes Kriminalisasi Tokoh NU Isa Ansori

Tidak Sesuai Standar Operasi, PT KAI Lepas Palang Perlintasan di Jalan Nias Kota Blitar

Sekadar diketahui, H Isa Ansori dan M Nawawi dilaporkan oleh Nur Kholik terkait kasus pengeroyokan ke Polres Blitar Kota pada Mei 2017. Pengeroyokan itu dilakukan di musala MI Al Hidayah, Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.

Padahal, berdasarkan keterangan warga, H Isa Ansori tidak berada di lokasi saat peristiwa itu terjadi.

"Orang yang tidak berada di lokasi kok ikut dijadikan tersangka," ujar Abdul Kholik.

Di sisi lain, takmir musala juga melaporkan balik tindakan Nut Kholik terkait membawa senjata tajam dan mencoret-coret tembok musala yang bernada melecehkan kiai musala dan pengurus yayasan MI ke polisi.

Tetapi, laporan dari takmir musala itu tidak ditindaklanjuti oleh polisi. Polisi justru memproses laporan dari Nur Kholik dan menetapkan dua tokoh masyarakat di Desa Pikatan sebagai tersangka.

"Dua tokoh masyarakat yang ditetapkan tersangka dan sekarang menjadi terdakwa di pengadilan itu justru membantu warga melaporkan perbuatan Nur Kholik ke polisi," katanya.

Abdul Kholik menjelaskan akar masalah itu bermula dari rebutan aset milik NU yang di atasnya ada bangunan musala dan MI. Aset tanah yang dibangun musala dan MI itu merupakan wakaf dari mertua Nur Kholik.

Halaman
12
Penulis: Samsul Hadi
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved