Tangis Lega Siati Saat Tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Rumah di Wamena Dibakar & Gelang Dirampas

Tangis Lega Siati Saat Tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Rumah di Wamena Dibakar & Gelang Dirampas.

Tangis Lega Siati Saat Tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Rumah di Wamena Dibakar & Gelang Dirampas
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Pengungsi Wamena Papua asal Jawa Timur saat tiba menggunakan pesawat hercules di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Rahu (2/10/2019). Sebanyak 120 pengungsi wamena asal jawa timur tiba di Malang untuk kembali ke daerah asal paska kerusuhan di Wamena yang mengakibatkan 33 orang tewas. 

Tangis Lega Siati Saat Tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Rumah di Wamena Dibakar & Gelang Dirampas

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Tangis Siati (43) pecah kala tiba di Lanud Abdulrahman Saleh, Kabupaten Malang. Perempuan asli Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo itu adalah salah satu pengungsi dari Wamena, Papua.

Di Wamena, Siati bekerja sebagai juru masak di perusahaan emas. Dia berangkat ke Wamena bersama sang suami sejak tahun 2000, “Suami saya meninggal tahun 2010. Saya kembali ke Probolinggo tapi kembali lagi Wamena,” tutur Siati (2/10/2019).

Pengungsi Wamena Asal Jatim Tak Bawa Apa-apa, Gubernur Khofifah Janjikan Bekal, Baju dan Uang

Pengungsi Jawa Timur dari Wamena Tiba di Malang Hari Ini, Satu Orang Ceritakan Temannya yang Tewas

Ada 120 Warga Jatim Tinggalkan Wamena Pasca Kerusuhan, Tiba di Bandara Abdulrachman Saleh Besok

Tanggal 27 September saat kerusuhan di Wamena terjadi, Siati berada di kantor tempatnya bekerja. Dia sedang memasak sayur asam dan menggoreng ikan untuk makanan para buruh pabrik.

“Tiba-tiba ada suara rusuh. Rumah dibakar, kantor dan semuanya ikut dibakar,” katanya.

Siati mengatakan situasi saat itu mencekam. Kerusuhan timbul di berbagai pelosok Wamena dan terjadi pembakaran di banyak tempat. Termasuk rumah yang ditinggalinya.

“Saya tidak pulang ke rumah. Saya tidur di kantor. Tidak ada harta benda tersisa,” katanya.

Tiga hari sebelum terbang dari Wamena ke Malang, Siati diselamatkan oleh orang Wamena dari amuk massa. Kala itu, Siati baru saja pulang dari pasar dan bertemu segerombolan orang. Gelang dan cincin emas yang Siati pakai dirampas. Pun uang seadanya yang ia kantongi.

“Lalu saya lari, saya diselamatkan orang Wamena. Lalu diantar ke rumah orang. Mungkin seperti kepala desa. Saya tinggal di sana,” ucap Siati.

Pengungsi lain, Nurasin (40) harus terkatung-katung selama dua hari sejak kerusuhan pecah. Dia berjalan menyusuri hutan sebelum akhirnya berlindung di markas Kodim Wamena.

Halaman
12
Penulis: Aminatus Sofya
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved