40 Persen Truk yang Operasional di Kawasan Pelabuhan Tanjung Perak Perlu Diremajakan

Over Dimension dan Over Load (ODOL) untuk dilarang operasi di jalan umum menjadi catatan khusus bagi Organda Khusus Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

40 Persen Truk yang Operasional di Kawasan Pelabuhan Tanjung Perak Perlu Diremajakan
danendra/surya
Antrian truk di kawasan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Akan diberlakukannya aturan terhadap truk yang melebihi kapasitas alias Over Dimension dan Over Load (ODOL) untuk dilarang operasi di jalan umum menjadi catatan khusus bagi Organda Khusus Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Hal itu tak lepas dari kondisi di lapangan dimana masih sekitar 40 persen dari lebih dari 9.000 truk angkutan di Pelabuhan Tanjung Perak yang butuh diremajakan alias tua, sehingga berpotensi masuk sebagai ODOL.

Ketua Umum DPC Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Khusus Tanjung Perak Surabaya, Kody Lamahayu Fredy, mengatakan, jumlah 40 persen itu bisa mencapai sekitar 4.000 unit truk.

"Menjelang diperlakukannya aturan ODOL dilarang operasional di tahun 2020, maka perlu dilakukan peremajaan pada sekitar 4.000 truk itu untuk tetap bisa operasional di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak," ungkap Kody, yang terpilih kembali secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPC Organda Khusus Tanjung Perak periode 2019-2024 di Musyawarah Cabang (Muscab) IX Organda Khusus Tanjung Perak di Surabaya, Kamis (10/10/2019).

Lebih lanjut, Kody menyebutkan truk-truk yang tua dan berpotensi ODOL tersebut adalah truk-truk dengan usia diatas 20 tahun. Sosialisasi terkait pelaranagan ODOL sudah dilakukan sejak tahun 2018 lalu.

Mantan Dirut PT DPS Divonis Bebas Oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Surabaya

Penyebab Mobil Masuk Parit Jalan A Yani Surabaya Diungkap Polisi, Rencana Korban ke Mall Pun Batal

Diduga Rem Lengket, Sopir Trailer Ini Tak Mampu Kuasai Kendaraan Akhirnya Tabrak Pembatas

Sehingga para pengusaha sudah harus melakukan peremajaan secara cepat karena tahun 2020 hanya tinggal 2,5 bulan lagi.
Selain itu, truk-truk dalam kategori uzur tersebut, bisa dipastikan kondisinya akan jauh menurun, termasuk daya angkutnya juga kian melemah. Selain renta, apabila truk tersebut tetap dipertahankan atau digunakan tanpa toleransi, diperlukan kecermatan dalam maintenance/perawatan/perbaikan truk usang tersebut.

"Daripada terus menerus perbaikan, kan lebih baik diganti dengan yang baru," kata Kody kepada Tribunjatim.com.

Karena itu, dalam kegiatan Muscab, Kody juga mengingatkan, DPC Organda Khusus Tanjung Perak senantiasa mendukung pengendalian ODOL terhadap truk-truk yang melebihi kapasitas angkut dan dimensinya. Dikatakan, pihaknya tanpa henti terus mengimbau seluruh anggotanya agar mengikuti aturan dari pemerintah tersebut.

"Karena untuk tahap selanjutnya adalah, pada tahun 2020 kendaraan angkutan barang yang berkategori melanggar ODOL, dilarang melewati jalan tol, maupun naik ke atas kapal," tandas Kody.

Dijelaskan, program pemerintah ini harus didukung secara nyata dan penuh kesadaran. Pasalnya, pada tahun 2021, akan ditetapkan kendaraan bebas pelanggaran ODOL.

"Kalau kendaraan tidak melanggar ODOL, maka pengusaha angkutan barang akan turut diuntungkan. Karena, kendaraannya akan sehat dan dapat diremajakan," ungkap Kody kepada Tribunjatim.com.

Diharapkan, melalui penekanan terhadap ODOL ini, tidak akan terjadi lagi muatan yang diangkut dengan satu kendaraan/truk. Dengan penerapan ODOL tersebut, maka barang dengan berat yang sama bisa dimuat menjadi 2 atau 3 truk angkutan barang.

"Dengan begitu, pengiriman barang juga Iebih lancar, dan kendaraan tidak mengalami as patah, ban meletus atau mogok di jalan. Selain itu, angka kecelakaan lalu lintas dapat berangsur kurang, karena semua truk memuat sesuai aturan yang telah ditetapkan," tandas Kody.(Sri Handi Lestari/Tribunjatim.com)

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved