Petani Probolinggo Kecewa dengan Harga Bawang Merah Pasca Panen: Kurang Menggembirakan

Kelompok Tani Sidodadi IV, yang berasal dari Desa Sidopekso, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo mengaku kecewa dengan harga bawang merah seusai panen

Petani Probolinggo Kecewa dengan Harga Bawang Merah Pasca Panen: Kurang Menggembirakan
SURYA/SRI WAHYUNIK
Komoditas bawang merah dan bawang putih yang harganya naik di Pasar 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kelompok Tani Sidodadi IV, yang berasal dari Desa Sidopekso, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo mengaku kecewa dengan harga bawang merah seusai panen raya pada bulan September 2019 ini.

Pasalnya harga bawang merah saat panen raya cukup mengecewakan para petani bawang.

"Harga bawang merah di tingkat petani saat panen raya September lalu kurang menggembirakan," ujar Taufik selaku Ketua Kelompoktani Sidodadi IV, saat di konfirmasi TribunJatim.com via telepon, Kamis (10/10/2019).

Menurut  Taufik, jadwal panen bawang merah di wilayah Kraksan Probnolinggo berkisar bulan Juni sampai puncaknya pada Bulan September.

"Harga di tingkat petani rata-rata Rp. 12 ribu per kg untuk kualitas supercross. Sementara harga kualitas sedang di kisaran Rp 6 - 8 ribu per kg. Idealnya harga bisa di kisaran Rp 15 ribu," jelasnya.

Pemerintah Inginnya Harga Bawang Merah Stabil

Kronologi Mobil Masuk ke Got Jalan A Yani Surabaya Dikuak Polisi, Mulanya Hindari Mobil Putar Balik

Petani bawang merah di Probolinggo  imbuh Taufik, saat ini dihadapkan pada persoalan yang kompleks.

"Ketergantungan terhadap tengkulak tinggi. Saat tanam posisinya sudah terjerat utang sarana produksi ke tengkulak, jadi kalau pas panen harganya nyaris diatur semua oleh tengkulak. Akses pembiayaan dan pemasaran juga kurang," ujarnya

Rata-rata petani, kata Taufik, habis panen langsung dijual semua, jarang yang menunda jual. Beda dengan petani Nganjuk yang terbiasa memilah. Bawang yang bagus dijadikan benih, yang kualitas sedang atau jelek dilempar ke pasar.

Pas musim, lanjut Taufik, bediding atau pancaroba seperti sekarang ini serangan ulat grayak juga tinggi, menyebabkan tanaman rusak.

Taufik berharap semua pihak untuk memberikan solusi atas persoalan petani bawang merah di daerahnya.

"Lha, karena masalahnya berjamaah, tentu penyelesaiannya juga harus berjamaah. Kami menyadari tidak mungkin masalah petani bawang merah hanya dibebankan kepada Kementerian Pertanian saja. Kementerian, BUMN, dinas-dinas dan instansi terkait mbok ya lebih peduli dan berperan aktif memberi solusi buat petani. Itu harapan kami," kata Taufik dengan logat khasnya.

Sementara Muhasan yang dimana sebagai petani sekaligus penangkar benih bawang merah mengatakan, kondisi harga jatuh sudah kerapkali terjadi di daerahnya setiap tahun.

"Nanti setelah Bima dan Brebes habis biasanya harga kembali normal. Pengaturan pola tanam memang solusi terbaik. Kalau sudah kena serangan ulat grayak memang bikin pusing petani. Tapi kami tetap berharap pemerintah dan instansi terkait bisa memberi solusi agar harga di petani tetap menguntungkan," ungkap Muhasan

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved