Indonesia Masih Jadi Ladang Investasi Asing, Bank Commonwealth: Obligasi Lebih Menarik dari Saham

Bank Commonwealth menyatakan Indonesia masih menjadi sasaran investasi bagi para investor asing.

Indonesia Masih Jadi Ladang Investasi Asing, Bank Commonwealth: Obligasi Lebih Menarik dari Saham
TRIBUNJATIM.COM/FIKRI FIRMANSYAH
(Kanan) Ivan Jaya selaku Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth mengatakan, Indonesia masih menjadi sasaran investasi investor asing di tengah berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kamis (11/10/2019) di Bank Commonwealth Jalan Panglima Sudirman Surabaya. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bank Commonwealth menyatakan Indonesia masih menjadi sasaran investasi bagi para investor asing.

Hal tersebut terjadi di tengah berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Ivan Jaya selaku Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth mengatakan, kondisi ekonomi global masih dipenuhi sentimen seputar potensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang masih belum menemukan titik terang.

"Bahkan, penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat di pertengahan September masih belum mampu membawa perubahan arah investasi, karena investor masih berada pada posisi risk off mode," kata Ivan, Jumat (11/10/2019) di Bank Commonwealth Jalan Panglima Sudirman Surabaya.

Bank Commonwealth Dukung Pemerintah Meningkatkan Indeks Literasi Asuransi Indonesia Melalui Digital

Di samping itu, lebih lanjut Ivan menerangkan, penyerangan ladang minyak Arab Saudi oleh drone yang tidak dikenal memperkeruh kondisi politik dunia dan di saat bersamaan kondisi geopolitik Asia semakin panas setelah demonstrasi Hongkong yang belum berakhir, disusul oleh demonstrasi di Indonesia.

Dijelaskannya juga, bahwa sentimen global dari perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok ini juga berdampak ke Indonesia.

Satu di antaranya yakni melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena berkurangnya nilai investasi asing, dan ekspor yang tumbuh melambat akibat harga komoditas yang tertekan.

Penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat bulan lalu direspon oleh Bank Indonesia dengan memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo sebesar 25bps ke angka 5,25 persen.

Bank Commonwealth Sebut Pentingnya Digitalisasi Bancassurance untuk Tingkatkan Literasi Asuransi

Meski demikian, Ivan menegaskan, Indonesia masih menjadi sasaran investasi investor asing, karena saat ini investor asing cenderung menyukai surat hutang negara atau obligasi dibandingkan dengan pasar saham.

“Karena dalam kondisi sentimen negatif dari global dan kondisi politik Indonesia yang bergejolak karena demonstrasi, investor asing cenderung berada pada risk off mode,” jelas Ivan.

Yang terpenting mnurut Ivan, beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam membuat strategi investasi di bulan Oktober ini adalah perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait perang dagang.

"Jadwal laporan keuangan pasar saham Kuartal III, kebijakan moneter bank sentral di dunia, pelantikan presiden Indonesia di pertengahan Oktober, dan babak final perundingan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa (Brexit)," tandasnya.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved