Sidang Kasus Jalan Gubeng Ambles, Sempat Debat Kusir saat Saksi Sebut Urusan Kontraktor Pelaksana

Sidang lanjutan kasus Jalan Gubeng ambles kembali digelar. Saat sidang sempat debat kusir ketika saksi sebut urusan kontraktor pelaksana

Sidang Kasus Jalan Gubeng Ambles, Sempat Debat Kusir saat Saksi Sebut Urusan Kontraktor Pelaksana
TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
Suasana sidang kasus amblesnya Jalan Gubeng yang digelar di ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (14/10/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sidang kasus amblesnya Jalan Gubeng, Surabaya kembali digelar dengan diketuai R Anton Widyopriyono sebagai ketua majelis. 

Sidang di ruang Candra ini digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang berprofesi sebagai Konsultan perencanaan proyek pembangunan pengembangan Rumah Sakit Siloam, Ahmad Eddy Susapto, Senin (14/10/2019).

Pada intinya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachmat Hari Basuki dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim bertanya kepada saksi mengenai proses perencanaan pembangunan RS Siloam hingga menyebabkan longsor jalan Gubeng Surabaya.

Sidang Lanjutan Kasus Amblesnya Jalan Gubeng, JPU Sebut Saksi yang Akan Dihadirkan Hampir 40 Orang

Saksi mengaku perencanaan pembangunan pengembangan RS Siloam telah sesuai dengan yang direncanakan.

Hanya saja dilaksanakan atau tidak, itu tergantung dari kontraktor pelaksana.

"Hasil perencanaan sudah diserahkan ke kontraktor pelaksana, dijalankan atau tidak di lapangan, itu urusan kontraktor pelaksana," jawab saksi.

Sempat terjadi debat kusir atas jawaban saksi yang menganggap tanggung jawabnya hanya sebatas pada perencanaan saja, bukan pada pelaksanaan proyek pembangunan.

Martin Suryana selaku ketua tim penasehat hukum tiga terdakwa dari PT Saputra Karya menilai, saksi Ahmad Eddy Susapto tidak normatif dalam memberikan keterangan. 

Sidang Lanjutan Kasus Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya Kembali Digelar, JPU Datangkan Enam Saksi

"Kalau orang membangun tentu diserahkan ke perencanaan. Bangunan apa pun kata kuncinya adalah perencanaan. Pekerjaan perencana ini dari hulu ke hilir. Dari awal sampai akhir dan ada unsur pengawasannya dan dia tidak boleh mengatakan suatu perencanaan itu kalau sudah dibuat ya sudah terserah mau dilaksanakan apa tidak dilapangan, tidak boleh seperti itu. Dia punya tanggung jawab yang melekat," terangnya.

Halaman
123
Penulis: Samsul Arifin
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved