Ada 45 Kasus Kebakaran di Kota Malang Hingga September 2019, Dominan Faktor Kemarau & Kelalaian

Ada 45 Kasus Kebakaran di Kota Malang Hingga September 2019, Dominan Faktor Kemarau & Kelalaian.

Ada 45 Kasus Kebakaran di Kota Malang Hingga September 2019, Dominan Faktor Kemarau & Kelalaian
Shutterstock via KOMPAS.com
Ilustrasi kebakaran 

Ada 45 Kasus Kebakaran di Kota Malang Hingga September 2019, Dominan Faktor Kemarau & Kelalaian

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Hangusnya dapur Jumiati (55), warga Terusan Mergan Raya, Kecamatan Sukun menjadi bencana kebakaran kesekian kalinya di Kota Malang.

Hingga September 2019, sudah 45 kebakaran terjadi di Kota Malang itu.

Analis Kebencanaan BPBD Kota Malang Mahfuzi mengatakan kebakaran yang belakangan kerap terjadi disebabkan oleh kemarau panjang.

Kredit Macet di Malang Turun Jadi 2,4 Persen

Reaksi Wali Kota Sutiaji atas Tingginya Angka Kemiskinan di Malang : Akurasi Database Diperjelas

Baru Diperbaiki, Portal Jembatan Muharto Kota Malang Ditabrak Lagi, Pelaku Kabur Setelah Diteriaki

Teriknya matahari dan kelembaban udara yang rendah serta kelalaian manusia memperparah meningkatnya kejadian kebakaran.

"Di bulan September misalnya, ada 12 bencana kebakaran. Selisih 1 kasus dari tahun lalu. Bulan September tahun lalu ada 13 kasus kebakaran," ujar Mahfuzi, Selasa (22/10/2019).

Ia mengatakan penyebab kebakaran lebih banyak bersumber dari kelalaian manusia. Sistem perkabelan yang semrawut, kualitas kabel tak sesuai SNI, pembakaran sampah, dan memasak tanpa ditunggui kerap kali jadi biang keladi.

Kasus Jumiati misalnya, juga disebabkan lantaran kelalaian saat menggoreng kerupuk. Alhasil, dapur milik dia ludes dilalap si jago merah.

"Apalagi saat kemarau, suhu udara panas dan kering, ditambah hembusan angin. Ada percikan api sedikit saja dan medianya terbuat dari bahan yang mudah terbakar maka semua bakal jadi abu,” ucapnya.

Data dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang menyebut kebakaran paling banyak terjadi di Kecamatan Klojen sebanyak 11 kasus. Disusul Kecamatan Blimbing dan Lowokwaru yang masing-masing 9 dan 8 kasus.

Mahfuzi mengatakan kerugian yang timbul akibat bencana ini mencapai Rp 8 miliar lebih. Jumlah itu lebih banyak dari tahun lalu yang menelan kerugian Rp 2,6 miliar.

"Kalai dibandingkan tahun lalu jumlah kerugian memang naik drastis," katanya.

Kendati sudah akan masuk musim penghujan, Mahfuzi mengimbau masyarakat tak bersantai dan lebih baik melakukan mitigasi. Apalagi dengan kontur wilayah Malang yang berbukit, potensi tanah longsor semakin besar saat musim penghujan.

"Musim hujan sudah di depan mata, kita tak ingin jumlah bencana jadi pemecah rekor data tahun lalu. Mari Bersama melakukan kewaspadaan dan menjalankan mitigasi bencana," pungkasnya.

Penulis: Aminatus Sofya
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved