Pemandian Bangsawan Majapahit di Jombang Jadi Wisata Sejarah, Bupati Siapkan Rp 175 Juta

Pemkab Jombang menganggarkan Rp 175 juta untuk ekskavasi situs petirtaan Sumberbeji di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben Kecamatan Ngoro Jombang

Surya/Sutono
Bupati Jombang, Mundjidah Wahab saat berkunjung Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho. 

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Pemkab Jombang menganggarkan Rp 175 juta untuk ekskavasi situs petirtaan Sumberbeji di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Dana bersumber dari APBD 2020.

Ini disampaikan Bupati Jombang Mundjidah Wahab saat berkunjung ke situs petirtaan Sumberbeji, Kamis (7/11/2019).

Kunjungan bupati disertai Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud RI, Fitra Arda, Arkeolog BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho, serta sejumlah pejabat teras Pemkab Jombang.

Dikatakan Mundjidah, terkait anggaran kebutuhan lain, Pemkab Jombang akan berkoordinasi dengan provinsi dan pemerintah pusat

Bupati Mundjidah memastikan, kawasan sendang Sumberbeji tersebut direncanakan menjadi kawasan wisata sejarah.

Sehingga, penganggaran tersebut akan dititikberatkan pada kegiatan penggalian sesuai regulasi yang ada.

Dia menjelaskan, situs petirtaan ini menjadi prioritas dan perhatian khusus Pemkab Jombang.

Sebabnya, selain sektor wisata, kawasan tersebut juga memiliki potensi besar terhadap roda perekonomian masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, situs yang diduga merupakan petirtaan atau pemandian bangsawan zaman Kerajaan Majapahit itu juga mampu menjadi ikon dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jombang.

Ditemukan Juni Lalu, Situs Pemandian Majapahit di Jombang Kini Bawa Untung untuk Masyarakat

Dewi Tanjung Laporkan Novel Baswedan Atas Dugaan Rekayasa: Telah Memakai Anggaran Negara 3,5 M

Modal Foto di Instagram, TNI Gadungan Asal Sukodono Sidoarjo ini Perdayai Tiga Janda

"Masyarakat juga agar tahu sejarah. Juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar. Dengan dijadikan destinasi wisata, otomatis mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar. Seperti UMKM atau pertanian, sehingga pendapatan masyarakat meningkat," terang Mundjidah kepada surya.co.id.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permusiuman Kemendikbud RI, Fitra Arda menjelaskan kemendikbud segera melakukan penelitian lanjutan, sehingga diharapkan mampu merekonstruksi bangunan secara utuh.

Temuan ini, sambung Fitra, akan didaftarkan, diregistrasi nasional sekaligus diverifikasi. Setelah itu baru akan ditetapkan menjadi cagar budaya.

"Setelah itu kita akan lakukan proses di hulu dan di hilir. Di hulu kita akan lakukan tahap perlindungan situsnya, kita pugar dan kita tingkatkan situsnya, termasuk di hilir yang mengarah pada pemanfaatan perekonomian masyarakat," pungkasnya.(Sutono/Tribunjatim.com)

Penulis: Sutono
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved