Dekan Fakultas Peternakan UB: Produksi Telur Malang Aman dari Kontaminan Racun

Prof Suyadi mengatakan bahwa senyawa dioksin merupakan racun karena sulit dicerna dalam metabolisme tubuh.

Dekan Fakultas Peternakan UB: Produksi Telur Malang Aman dari Kontaminan Racun
SURYA.CO.ID/FATIMATUS ZAHROH
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Prof Suyadi, usai meninjau sentra peternakan ayam petelur di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Minggu (17/11/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Prof Suyadi angkat bicara terkait rilis hasil penelitian jaringan kesehatan global (IPEN) yang menyebut adanya kandungan senyawa dioksin pada telur ayam di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Prof Suyadi mengatakan bahwa senyawa dioksin merupakan racun karena sulit dicerna dalam metabolisme tubuh.

Biasanya senyawa tersebut terkontaminasi dari hasil pembakaran yang tidak sempurna dari limbah plastik.

Secara lebih spesifik, Prof Suyadi mengatakan bahwa ada tiga faktor yang bisa mempengaruhi output hasil hewan ternak. Khususnya dalam hal ini peternakan unggas, ayam petelur. Yaitu faktor pakan ayam, faktor konsumsi air yang diberikan, dan faktor udara lingkungan yang dihirup oleh ayam petelur.

Pilwali Surabaya 2020, Cak Ji: Inilah Calon Wali Kota yang Ditunjuk Risma

"Ketika kita lihat di lingkunhan peternakan ayam petelut Tumpang tidak ditemukan adanya proses pembakaran sampah plastik seperti yang ditemukan di Tropodo. Ditambah lagi karena disini peternakan yang menggunakan sistem industri komersial, maka peternaknya memperhatikan betul input, proses dan outputnya," jelas Prof Suyadi, usai meninjau sentra peternakan ayam petelur di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Minggu (17/11/2019).

Produksi telur ayam di peternakan ayam untuk komersial selalu menggunakan sistem industri. Input pakan, air minum, dan juga udara sangat penting sebagai faktor output produksi telur.

"Pakan ayam petelur komersial selalu dijaga mutunya. Dan bahan-bahan yang digunakan mulai air minum, pakan ayam sangat dijaga hati-hati karena ayam sangat peka. Maka saya yakin peternak di sini juga tidak berani merubah kompoisisi air minum, vitamin dan pakan karena akan sensitif pada hasil telur," lanjut Prof Suyadi.

Prof Suyadi mengajak masyarakat luas untuk menilik lebih jauh tentang teknik ternak ayam kampung dengan ayam komersial.

Ternak ayam kampung lebih banyak dibiarkan hidup mencari makan di lingkungan bebas.

Mereka tidak hidup di kandang permanen sehingga konsumsi makannya cenderung tak terkontrol.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Elma Gloria Stevani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved