DKBPPPA Sebut Jumlah Perkawinan Anak di Sampang Masih Tinggi, Cek Datanya di Dinas Kesehatan!

Masrusah, Kabid PPPA DKBPPPA Sampang paparkan Dinas Kesehatan tunjukkan jumlah pernikahan dibawah 19 tahun di Kabupaten Sampang masih tinggi.

DKBPPPA Sebut Jumlah Perkawinan Anak di Sampang Masih Tinggi, Cek Datanya di Dinas Kesehatan!
TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
Kabid Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DKBPPPA Sampang, Masruhah saat berada di kantornya Jalan Rajawali Kecamatan/Kabupaten Sampang, Madura, Jumat (29/11/2019). 

Laporan Wartawan TribunJarim.com, Hanggara Pratama

TRIBUNJATIM.COM, SAMPANG - Melalui Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) Sampang melakukan upaya meminimalisir perkawinan anak di Kabupaten Sampang, Madura.

KIE tersebut dilakukan ke setiap desa di 14 Kecamatan se-Kabupaten Sampang dengan beberapa titik yang sudah ditentukan. Antara lain lembaga sekolah dan pondok pesantren.

Dalam penyampaiannya juga dijelaskan tentang kekerasan anak dan perempuan, sebab point tersebut juga memiliki hubungan dengan perkawinan anak.

9 Drama Korea Paling Banyak Dicari November 2019, Ada Vagabond, Extraordinary You, VIP

Modus Iming-iming Duit Rp 250 Ribu, Pria Pemilik Warkop Asal Tulungagung Rudapaksa 6 Bocah Lelaki

"Misal dengan adanya kasus KDRT yang berujung penceraian, hal itu dimungkinkan faktor penyebabnya karena usia istri atau suami masih belum siap untuk menikah. Ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah kan baru boleh kalau usianya diatas 19 tahun," ujar Masrurah, Kabid Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DKBPPPA Sampang, ditemui  Jumat (29/11/2019).

Namun, meski sudah melakukan KIE, Masruhah menilai, kasus pernikahan anak di Madura, khususnya Sampang dikatakan sangat sulit diantisipasi.

Sebab faktor-faktor pemicu pernikahan anak sudah menjadi maindset atau pola pemikiran keras di kalangan masyarakat, khususnya bagi masyarakat pedesaan di Sampang.

"Kalangan orang tua banyak memilih menikahkan anaknya dibawah umur 19 tahun, karena percaya jika anaknya masih belum menikah di usia 15 tahun itu menandakan tidak laku," ungkapnya.

Beberapa keluarga merasa, ketika anaknya dianggap tidak laku, hal itu menjadi beban orang tua, karena berpengaruh terhadap kehormatannya.

Penghuni Kos di Gedangan Pergoki Pencuri yang Bobol Kosnya, Pelaku Babak Belur Dihajar warga

Chord Gitar Lagu Kembali ke Awal Glenn Fredly, Soundtrack Film Twivortiare, Link Download & Video

Masrurah menambahkan, untuk jumlah pernikahan anak di Sampang, menurutnya berada di kategori masih tinggi.

Pihaknya mengetahui hasil tersebut dari data yang dimiliki oleh Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) lain yang ada di Sampang saat melakukan koordinasi penanganannya.

Bupati Mas Ipin Tekankan Pentingnya Inovasi dan Kolaborasi dalam Peringatan HUT Korpri Ke-48

"Kalau dari data Kementerian Agama, jumlah pernikahan anak tidak akan ada. Karena pihak yang menikahkan anaknya dibawah umur, biasanya mendatakan pernikahan tersebut dengan usia sesuai peraturan pemerintah," katanya.

Sedangkan jika ditinjau melalui sektor kesehatan di Dinas Kesehatan, jumlah ibu melahirkan dengan usia dibawa 19 tahu,  jumlahnya banyak.

"Itu datanya masuk ke dalam data kelahiran ibu di Kabupaten Sampang," pungkasnya.

Penulis: Hanggara Syahputra
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved