Ada 5 Pengaduan Tindak Kekerasan Perempuan di Jember per Hari, Kasusnya Mulai KDRT Hingga Seksual

Ada 5 Pengaduan Tindak Kekerasan Perempuan di Jember per Hari, Kasusnya Mulai KDRT Hingga Seksual.

Ada 5 Pengaduan Tindak Kekerasan Perempuan di Jember per Hari, Kasusnya Mulai KDRT Hingga Seksual
SURYA/SRI WAHYUNIK
kampanye hari anti kekerasan di jember 

Ada 5 Pengaduan Tindak Kekerasan Perempuan di Jember per Hari, Kasusnya Mulai KDRT Hingga Seksual

TRIBUNJEMBER.COM, JEMBER - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jentera Perempuan Indonesia mencatat setiap hari menerima tiga hingga lima pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Jember dalam rentang waktu tahun 2019.

Dari catatan LBH Jentera Perempuan Indonesia yang berkantor di Jember ini menunjukkan, kasus kekerasan terhadap perempuan setiap hari terjadi.

"Kasusnya macam-macam, ada kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran, verbal. Kekerasan seksual juga kami terima pengaduannya," ujar Direktur LBH Jentera Perempuan Indonesia Yamini kepada TribunJatim.com, Minggu (8/12/2019).

Hari Sukarelawan PMI di Jember, Relawan Tidak Ngurusi Politik

KPU Jember Gelar Sosialisasi, Pertanyaan Perihal Jalur Perseorangan Mendominasi

Potensi Ancaman Angin Kencang dan Puting Beliung di Jember Masih Terjadi

Pengacara itu mengakui, kasus kekerasan terhadap perempuan, dan anak masih terjadi dan ditemukan di Jember. Meskipun, lanjutnya, tidak semua kasus diselesaikan melalui jalur hukum.

"Memang tidak semua yang mengadu ke kami meminta penyelesaian ke jalur hukum. Ada yang tidak ingin memakai jalur hukum," imbuhnya.

Karena itu, Yamini yang ditemui di sela-sela kampaye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP) di Lapangan Universitas Jember, Minggu (8/12/2019), mengajak semua masyarakat, dan elemen masyarakat berani menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan anak. Masyarakat, lanjutnya, juga harus paham dan mengetahui segala bentuk kekerasan tersebut.

"Juga harus ada pemahaman jangan pernah sudutkan korban tindak kekerasan. Jangan salahkah korban. Korban harus ditemani, dan didampingi," tegasnya. Karena Yamini menemukan beberapa kasus, korban kekerasan malah dihakimi oleh masyarakat.

Sementara itu, Koordinator Rumah Teduh Indonesia Linda Dwi Eriyanti menambahkan, dari survei yang pernah dilakukan kepada anggota Fatayat Jember, menyebutkan jika mereka pernah menjadi korban kekerasan. Survei itu dilakukan di tahun 2016, dengan bertanya kepada seluruh anggota Fatayat di Jember.

"Ternyata mereka menjawab pernah mendapatkan tindak kekerasan. Tindak kekerasan itu ada di rumah, sekolah, jalan, tempat umum. Bentuknya macam-macam, termasuk pengekangan terhadap sebuah kehendak," ujar Linda yang juga pengurus Fatayat Kabupaten Jember itu.

Karenanya, baik Linda maupun Yamini kembali menyerukan pentingnya kampanye menolak segala macam bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Melalui momen peringatan 16HAKTP itu pula, Linda dan Yamini bersama KOmunitas Rumah Teduh juga meminta pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

"RUU itu harus segera disah-kan, karena itu akan menjadi piranti penghapusan kekerasan seksual. Nantinya juga jangan hanya sekadar menjadi UU, tetapi harus benar-benar diimplementasikan hingga tingkat bawah," tegas Linda.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved