Sebanyak 120 Pengusaha Kulit di Magetan, Sepakat Menghentikan Produksi Kulit

sebanyak 120 pengusaha kulit di Magetan yang tergabung di DPD Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) sepakat menghentikan produksinya

(Surya/Fatimatuz zahroh)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parwansa bersama jajaran Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, meninjau langsung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Lingkungan Industri Kulit (LIK) yang dikelola UPT Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, di Magetan, (28/3/2019) malam. Fatimatuz zahroh 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Masalah pembuangan limbah dan slag (limbah padat) di penyamakan kulit di Kabupaten Magetan kini mencapai puncaknya, sebanyak 120 pengusaha kulit yang tergabung di DPD Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) sepakat menghentikan produksinya mulai, Senin (2/3).

Akibatnya sebanyak 1200 karyawan yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dan keluarganya di industri kulit Magetan itu dipaksa dirumahkan tanpa batas waktu. Kesepakatan pengusaha kulit ini tentu saja menambah angka pengangguran di Kabupaten Magetan.

"Surat dari UPT Lingkungan Industri Kulit (LIK) Provinsi Jatim tidak ada yang secara langsung minta kami berhenti berproduksi. Tapi mau tidak mau kami harus memutuskan berhenti berproduksi," kata Ketua DPD APKI Kabupaten Magetan Basuki Basuki Rahmawan kepada Surya, Minggu (1/3).

Keputusan pengusaha menghentikan produksi itu berdasarkan surat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dikirim ke UPT LIK dan diteruskan ke APKI, yang intinya akan memberikan sanksi administrasi, bila dalam jangka waktu 30 hari ke depan masih ada pembuangan limbah, slag (limbah padat) yang tidak sesuai baku mutu, dimana pun dilingkungan LIK.

"Memang di surat Kepala UPT LIK sebagai rekan kerja tidak ada perintah menghentikan produksi, tapi kami di mohon tidak membuang limbah, slag, dan itu bagi kami tidak membuang limbah, slag selamat kurun waktu 30 hari, itu hal yang mustahil. Bertahun tahun kami berusaha, nyatanya belum ada hasil yang signifikan," jelas Basuki.

Ribuan Karyawan Penyamakan Kulit di Magetan Bakal Dirumahkan, Penyebabnya ini

Khofifah Menyayangkan Inisden Perahu Tenggelam di Sungai Brantas Jombang: Seharusnya Tak Beroperasi

Kabar Baru Asmara Viral Kakek 103 Tahun Nikahi Gadis 27 Tahun, Tersipu Ditanya Malam Pertama, Malu

Ditegaskan Basuki, kalau pengusaha penyamak kulit diminta tidak membuang limbah, slag selama kurun waktu 30 hari, itu sama saja meminta pengusaha berhenti berproduksi.

"Meski tidak langsung, tapi kalau harus tidak membuang limbah, slag selama 30 hari, itu sama saja minta kita harus berhenti berproduksi," jelas pengusaha muda ini.

Ia katakan, APKI mengindahkan permintaan DLH yang dikirim ke UPT LIK Provinsi Jatim di Magetan itu, karenanya APKI sepakat menghentikan produksi kulit basah, sampai batas waktu belum ditentukan, mulai Senin (2/3).

"Mengapa kami memilih berhenti Senin (2/3), karena kami perlu waktu menyiapkan produksi kulit basah. Ini untuk persiapan menghadapi berhentinya produksi kulit basah,"ujar Basuki.

Namun, lanjut Basuki, APKI berharap dalam sepekan kedepan ada solusi yang ditawaran dari pihak terkait masalah pembuangan limbah, slag kulit ini. Sehingga masyarakat perkulitan tidak jadi libur produksi.

Halaman
12
Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved