Produksi Kulit di Magetan Berhenti, Karyawan Kehilangan Kerjaan, Perajin Kulit Terancam Mati

Bila benar pengusaha kulit berhenti berproduksi, dampak yang akan terjadi pada perekonomian Kabupaten Magetan pasti sangat terasa.

(Surya/Fatimatuz zahroh)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parwansa bersama jajaran Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, meninjau langsung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Lingkungan Industri Kulit (LIK) yang dikelola UPT Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, di Magetan, (28/3/2019) malam. Fatimatuz zahroh 

 TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Bila benar pengusaha kulit berhenti berproduksi, dampak yang akan terjadi pada perekonomian Kabupaten Magetan pasti sangat terasa.

Tidak saja karyawan kulit, tapi ribuan perajin kulit juga bakal menambah tinggi angka pengangguran di Kabupaten Magetan.

"Dengan berhentinya produksi kulit, pastinya bahan untuk kerajinan sangat sulit. Kalau pun harus mendatangkan kulit dari luar Magetan, harganya pasti sangat mahal," kata Edi Purnomo, Ketua Paguyuban Perajin Sandal Kulit Jejeruk, Desa Candi, Kecamatan/Kabupaten Magetan, kepada Surya, Senin (2/3).

Dikatakan Edi, jika kulit sebagai bahan kerajinannya sulit didapat di Magetan, perajin akan belajar membuka usaha lain. Tapi beralih usaha itu baru dipilih, bila benar benar produksi kulit di Magetan berhenti berproduksi.

"Kita masih menunggu bagaimana keputusan para pengusaha kulit. Kalau benar bakal berhenti berproduksi, kami akan beralih usaha yang mungkin jauh dari masalah kulit. Tapi beralih usaha itu merupakan pilihan terakhir," jelas Edi.

Pemkot Blitar Serahkan Bantuan Dari Pemprov Jatim untuk Warga Terdampak Kerusuhan Suporter

Lagi, Seorang Pelajar di Lamongan Tewas Tenggelam, Diduga Tidak Bisa Berenang

Pengakuan Judika Lihat BCL Menangis Tersedu-sedu Dengar Lagu Terbarunya, Aku Lihat Bawah Terus

Karena, lanjut Edi, usaha kerajinan kulit seperti sepatu, sandal, ikat pinggang, dompet, dan asesoris sepeda unto juga sepeda motor besar dijalani puluhan tahun, sehingga kalau beralih usaha sama dengan kembali ke nol.

"Kami merasa berat juga meninggalkan usaha kerajinan yang sudah puluhan tahun menghidupi keluarga dan bahkan menjadi ikon Kabupaten Magetan ini. Mudah mudahan, pertemuan penguasa dan pengusaha bisa ada solusi," katanya kepada Tribunjatim.com.

Menurut Edi, perajin kulit yang bernaung di paguyubannya berjumlah 50 perajin. Setiap perajin mempekerjakan tujuh sampai sembilan pekerja yang memiliki keterampilan perkulitan.

"Jadi tidak saya karyawan produksi kulit yang bakal menganggur, tapi juga perajin, dan karyawan kerajinan kulit. Karena itu kita sangat berharap ada solusi yang terbaik dipertemuan bupati dan pengusaha kulit," kata Edi kepada Tribunjatim.com.

Seperti diberitakan sebanyak 120 pengusaha kulit.di Magetan sepakat menghentikan produksi kulitnya mulai Senin (2/3).

Keputusan pengusaha kulit yang tergabung di DPD Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Magetan itu merupakan buntut ultimatum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan yang akan memberi sanksi, bila masih ada yang membuang limbah cair dan slag (limbah padat) di sekitat Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan.

Tentu saja ancaman terkait dengan pembuangan limbah dan slag ditanggapi pengusaha kulit dengan kesepakatan berhenti berproduksi. Karena himbauan untuk tidak membuang limbah dan slag itu merupakan hal yang mustahil dilakukan. Karenanya sepakat berhenti produksi, walau harus merumahkan 1200 karyawan.(tyo/Tribunjatim.com)

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved