Waspadai, Ada 49 Penderita DBD di Mojokerto Diawal Tahun 2020

Puluhan warga terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) bersamaan musim penghujan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

mohammad romadoni/surya
Pasien DBD yang didominasi anak-anak usia 2 tahun dan lima tahun dirawat di ruang perawatan VIP RSI Sakinah, Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Puluhan warga terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) bersamaan musim penghujan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Dilansir data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto tercatat untuk sementara ada 49 penderita DBD diawal tahun 2020.

Angka penderita DBD tersebut cenderung menurun jika dibandingkan bulan Januari sampai Maret di tahun 2019 yakni berjumlah 185 orang.

"Penyebaran DBD dibandingkan tahun 2019 di Kabupaten Mojokerto turun drastis sekitar 60 persen di tahun 2020," ujar Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Mojokerto, Eka Yuli Setyawan saat dikonfirmasi Surya, Jumat (13/3/2020).

Eka mengatakan paling banyak wabah DBD ini berada di tiga wilayah yaitu pertama di Kecamatan Jetis, Kecamatan Pacet dan Kecamatan Dawarblandong.

Perlu diantisipasi penyebaran wabah DBD di Kecamatan Sooko, Kecamatan Trowulan, Kecamatan Bangsal, Kecamatan Pungging, Kecamatan Dlanggu, Kecamatan Kutorejo, Kecamatan Pesanggrahan, Kecamatan Gondang dan Kecamatan Jatirejo.

Resepsi Harlah NU ke-97, PWNU Jatim Siapkan Pendeteksi Suhu Tubuh Cegah Penyebaran Virus Corona

Ingat Krisna Mukti? Betah Sendiri di Usia 51 Tahun, Tak Masalah Buka Panti Jomblo, Ini Alasannya

Daftar Pemain dan Pelatih Sepak Bola Dunia Terjangkit Virus Corona, Bek Juventus-Penyerang Chelsea

Katanya, wabah DBD ini muncul ditengarai karena intensitas curah hujan tinggi sehingga mengakibatkan genangan air di sejumlah tempat yang rawan menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti.

"Jentik Aedes Aegypti biasanya berada di genangan air jernih, misalnya pada genangan air yang berada di barang bekas dan lainnya," jelasnya kepada Tribunjatim.com.

Masih kata Eka, masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan di 27 Puskemas yang tersebar di seluruh Kabupaten Mojokerto untuk melayani penderita DBD. Jika pasien DBD yang dirawat di Puskesmas selama 3 hari belum menunjukkan progres kesembuhan maka pasien tersebut akan segera dirujuk ke sejumlah rumah sakit terdekat di wilayah Mojokerto.

"Rata-rata penderita DBD 25 persen didominasi anak-anak kami ada 27 puskemas sudah siap melayani penderita DBD," jelasnya.

Ditambahkannya, pihaknya berupaya menggalakkan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus.
Program PSN yaitu menguras tempat penampungan air, menutupnya dengan rapat, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Sedangkan 3M Plus adalah bentuk kegiatan pencegahan yakni menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air, menggunakan anti nyamuk, dan menggunakan kelambu saat tidur.

"Mencegah DBD lebih efektif pakai Jumantik (Juru Pemantau Jentik) untuk memeriksa jentik di rumah tersebut dan kegiatan Pengasapan (Fogging) sekitar 6 kali relatif sangat berkurang dibanding tahun lalu," tandasnya. (Mohammad Romadoni/Tribunjatim.com)

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved