Breaking News:

Virus Corona di Surabaya

Bilik Disinfektan Tak Dianjurkan Kemenkes, Dosen Farmasi Unair: Perlu Perhatikan Kadar & Cara Pakai

dosen Farmasi di Fakultas Farmasi UNAIR memberikan penjelasan terkait bahaya disinfektan disemprot ke tubuh untuk mencegah virus Corona (Covid-19).

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Hefty Suud
TRIBUNJATIM.COM/FIKRI FIRMANSYAH
Bilik sterilisasi di stasiun Surabaya Gubeng. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pada tanggal 3 April 2020 yang lalu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengeluarkan surat edaran (SE) nomor : HK.02.02//III/375/2020 membahas penggunaan bilik disinfektan dalam rangka pencegahan penularan virus Corona (Covid-19).

Secara singkat, SE tersebut tidak menganjurkan penggunaan bilik disinfeksi di tempat dan fasilitas umum serta pemukiman.

Menanggapi hal itu, Dr Retno Sari, MSc., Apt. dosen Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya memberikan penjelasan.

SUMBER Kemunculan Virus Corona Bocor, Kebohongan Pemerintah China Terbukti? Pasar Jadi Kambing Hitam

Terekspos Penampilan Kakak Nikita Mirzani, Sebut Wajah Beda Drastis, Nyai: Udah Kayak Tukang Pukul

Menurutnya, terdapat beberapa pertimbangan yang digunakan untuk memberikan rekomendasi tersebut, salah satunya adalah pernyataan WHO mengenai bahanya penyemprotan disinfektan pada tubuh.

Terutama untuk membrane mukosa seperti mata dan mulut, sehingga, berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan dapat merusak pakaian.

Antisipasi Penyebaran Covid 19, Pusat Pertokoan di Situbondo Jatim ini Perketat Pengunjung

Katalog Promo Superindo untuk 17-19 April 2020, Diskon Weekend, Harga Spesial Buah dan Mi Instan

"Bahan pertimbangan Kemenkes RI yang lain dalam SE nya yang tidak menganjurkan penggunaan bilik disinfektan di tempat dan fasilitas umum serta pemukiman adalah berbagai macam cairan disinfektan yang digunakan untuk bilik sterilisasi di lapangan antara lain adalah diluted bleach, klorin, etanol 70%, ammonium kuarterner seperti benzalkonium klorida, hydrogen peroksida dan lain sebagainya," kata dosen yang akrab disapa Retno itu, Sabtu (18/4/2020).

Ketua DPD Golkar Jawa Timur, M Sarmuji Umumkan Kepengurusan Golkar Periode 2020-2025

Bahan tersebut, dikatakannya, merupakan bahan untuk disinfeksi ruangan dan permukaan, bukan untuk tubuh.

Menurutnya, terdapat bahan-bahan yang digunakan tersebut perlu ditelaah bagaimana toksisitasnya, sifat fisikokimia, dan kadar peggunaan atau kadar efektif.

Sebagai contoh, masih kata Retno, benzalkonium klorida pada kadar 0,01% - 0,5% dapat digunakan sebagai obat kumus, membersihkan luka, dan sebagai pengawet sediaan, serta Hydrogen peroksida pada kadar 3% sampai 5% dapat ditemukan pada sediaan untuk kumur dan mencegah infeksi pada luka.

“Berkaca dari itulah, pada penggunaan untuk disinfeksi permukaan perlu diperhatikan juga kadar dan cara penggunannya karena beberapa bahan dapat bersifat korosif terhadap logam, merusak karet, plastik, dan kain,” jelas Retno.

Penulis: Fikri Firmansyah

Editor: Heftys Suud

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved