Virus Corona di Pasuruan

Dugaan Skandal Dalam Pengerjaan Megaproyek 2,5 Juta Masker di Kabupaten Pasuruan Menguat

Dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan megaproyek pengadaan 2,5 juta masker di Kabupaten Pasuruan semakin menguat.

(Surya/Galih Lintartika)
Sejumlah UMKM tetap mengerjakan proyek pemesanan masker meski dengan harga yang sangat murah. 

 TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan megaproyek pengadaan 2,5 juta masker di Kabupaten Pasuruan semakin menguat.

Penyimpangan ini bukan berarti ada kerugian uang negara di dalamnya, sebab proyek ini sedang berjalan. Namun, penyimpangan yang dimaksud adalah tidak tepat sasaran.

Ada indikasi bahwa proyek pengadaan masker untuk masyarakat Pasuruan dalam memerangi wabah virus Corona atau Covid-19 ini tidak 100 persen dirasakan manfaatnya oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ada oknum yang bermain di dalamnya, sehingga membuat harga yang sudah ditentukan oleh Pemkab Pasuruan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Ketua DPRD Pasuruan Dorong Pansus dan APH Tindak Tegas Yang Bermain Dalam Pengadaan Masker

SMS Terakhir Didi Kempot ke Istri, Bahas Anak, Yan Vellia Tak Henti Curhat: Tangisku Mergo Sayang

Duka Wafat Didi Kempot Sampai Luar Negeri, Lihat Cara Media Asing Beritakan Godfather of Brokenheart

Tak hanya itu, banyak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)  yang merasa terpaksa mengerjakan proyek ini. Sebab, harga atau upah yang mereka terima sangat minim atau jauh dari normal.

Contoh kasus, dalam proyek yang menelan anggaran kedaruratan COVID-19 senilai Rp 7,5 miliar ini, ada sejumlah penjahit yang mendapatkan upah jahit Rp 400 - Rp 500 per masker.

Padahal, dari data yang diterima, harusnya ongkos jahit per masker itu Rp 1.000. Itu juga terjadi dalam ongkos sablon masker. Penjahit hanya menerima upah Rp 150 per biji.

"Para koordinator atau oknum - oknum inilah yang mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Apalagi saat ini, harga satuan masker sudah dinaikkan khususnya di Dinas Koperasi," kata sumber yang namanya menolak dikorankan.

Sumber menerangkan, harga satuan masker yang semula ditetapkan Rp 3.500 per biji kini ditelah dinaikkan menjadi Rp 4.500 per biji. Namun ironisnya, harga ongkos jahit dan sablon yang diberikan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak dinaikkan.

Seorang pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang juga mendapatkan pengerjaan masker ini membenarkan kabar itu. Semula, ia mendapatkan 50 ribu masker, namun dikurangi hanya menjadi sekitar 38 ribuan masker.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved