4 Terdakwa Penggelapan Saham Perusahaan Es Krim Ajukan Perdamaian, Sebelum Tuntutan JPU Dibacakan

Sebelum menghadapi tuntutan Jaksa, empat terdakwa kasus dugaan penggelapan saham PT Zangrandi Prima ajukan perdamaian.

TRIBUNJATIM.COM/SAMSUL ARIFIN
suasana sidang kasus dugaan penggelapan saham perusahaan es krim di PN Surabaya. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sebelum menghadapi tuntutan Jaksa, empat terdakwa kasus dugaan penggelapan saham PT Zangrandi Prima ajukan perdamaian

Mereka di antaranya Ir. Willy Tanumulia, drg. Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio. 

Hal ini diketahui dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya. Mereka melalui pengacaranya meminta tenggang waktu kepada hakim terkait pembagian dividen perusahaan es krim tersebut. 

Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT LIB, Direktur Utama Mengundurkan Diri

Berkas Kasus Pemuka Agama di Surabaya Rudapaksa Gadis Lengkap, Polda Jatim: Secepatnya Disidang

Saat dikonfirmasi usai persidangan, Jaksa dari Kejari Surabaya, Damang Amubowo mengatakan permohonan upaya perdamaian yang diajukan PH para terdakwa, hanya untuk pertimbangan saja.

Sedangkan proses hukummya tetap berjalan. 

"Proses hukum tetap berjalan. Hanya saja permohonan (perdamaian) menjadi pertimbangan dalam putusan hakim," terangnya, Senin (18/05/2020).

Adapun berkas tuntutan Jaksa Damang mengaku sudah rampung dan siap. Tinggal menunggu jadwal yang akan datang. 

"Karena ada itikad baik yang disampaikan terdakwa jadi ditunda," imbuhnya.  

Untuk pembacaan tuntutan, Damang menyampaikan ditunda hingga dua pekan."Kita beri waktu dua minggu, jadi nanti tanggal 2 Juni 2020, saya bacakan tuntutannya," tutupnya. 

Untuk diketahui, Adi Tanumulia (alm) dan Jani Limawan (alm) merupakan pasangan suami istri yang memiliki tujuh anak kandung. Mereka adalah Sylvia Tanumulia, Robiyanto Tanumulia, Emmy Tanumulia, Willy Tanumulia, Ilse Radiastuti Tanumulia, Evy Susantidevi Tanumulia dan Grietje Tanumulia.

Sebelum meninggal dunia, Adi Tanumulia (alm) dan Jani Limawan (alm) mendirikan sebuah perusahaan bergerak di bidang penjualan es krim dengan nama Zangrandi. Setelah Adi Tanumulia meninggal dunia, maka kegiatan usaha tersebut dilanjutkan oleh anak-anaknya, dan pada akhirnya didirikanlah PT Zangrandi Prima yang pemegang sahamnya adalah para ahli waris sekaligus.

Pada saat pendirian PT Zangrandi, segenap Ahli Waris sepakat Saham milik Evy Susantidevi diatas namakan saudaranya yaitu Sylvia Tanumulia yang tertuang dalam Akta No. 31 tanggal 12 Pebruari 1998 tentang Surat Pernyataan yang dibuat dihadapan Susanti, S.H Notaris /PPAT di Surabaya. Selanjutnya, dalam setiap rapat perusahaan Evy selalu diundang bahkan diberikan deviden oleh Perusahaan.

Belakangan, sejak Sylvia meninggal dunia pada tahun 2013, mulai timbul upaya-upaya untuk mencaplok saham Evy di PT Zangrandi. Alhasil, dilakukanlah rapat umum pemegang saham RUPS, kemudian saham sebanyak 20 milik Sylvia (alm) berikut milik Evy tersebut malah dialihkan sepihak kepada Willy (7) saham, Grietje (7) saham, dan Emmy (6) saham, pada tanggal 25 Agustus 2017. Dan hasil rapat tetap disahkan Fransiskus.

Atas perbuatan para terdakwa, korban Evy Susantidevi hanya berharap negara hadir dan melindungi dirinya yang merasa dirugikan karena saham miliknya yang merupakan warisan orang tua, diambil oleh saudaranya sendiri.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 266 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved