Indikasi Manipulasi Harga BBM Disoroti MTI Jatim, Solar Nonsubsidi Harusnya di Bawah Rp 4.300/Liter

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jatim, Bambang Haryo Soekartono, menilai ada indikasi manipulasi harga BBM.

KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Sejumlah pengendara mengisi bahan bakar di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jatim, Bambang Haryo Soekartono, menilai ada indikasi manipulasi harga BBM di dalam negeri yang terlihat dari mahalnya harga solar di dalam negeri dibandingkan dengan bunker di pelabuhan Singapura.

Mengutip data bunker-ex.com per 17 Mei 2020, Bambang Haryo memaparkan, harga bunker minyak diesel atau solar jenis MGO (HSD) di pelabuhan Singapura tercatat USD 264 per 1.200 liter.

Atau jika dihitung menggunakan kurs per dollar AS Rp 15.000, harga solar nonsubsidi di pelabuhan transhipment terbesar di Asia Tenggara itu hanya Rp 3.300 per liter.

Terungkap Perawat Ari Tiba di RS dalam Kondisi Kritis, Hasil Swab Positif Covid-19, Pakai Inkubasi

"Harga itu lebih rendah dari harga solar nonsubsidi (HSD) di Indonesia sebesar Rp 7.300 per liter (harga awal Mei 2020), bahkan masih lebih rendah dibandingkan harga solar subsidi di Indonesia yang masih Rp 5.150 per liter," kata BHS, sapaan akrab Bambang Haryo, melalui rilisnya, Senin (18/5/2020).

Dengan tingginya harga tersebut membuat pelabuhan internasional di Indonesia tidak bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura, mengingat harga bunker yang 2 sampai 3 kali lipat lebih mahal dari yang berlaku di pelabuhan internasional Indonesia.

"Padahal, jargon Pak Presiden Jokowi adalah dunia maritim harus bisa bersaing secara global," kata BHS.

Postingan Terakhir Ari, Perawat Surabaya PDP yang Meninggal Banjir Ucapan Duka, Potretnya Tersenyum

Pulang Dibully, Bocah Penjual Gorengan Ciumi Adiknya, Minta Maaf Tak Bisa Belikan Popok, Ibu Kaget

Mengacu dari data itu, politisi Gerindra ini yakin harga solar nonsubsidi di dalam negeri seharusnya tidak boleh lebih dari Rp 4.300 per liter meskipun sudah dibebani pajak 4 persen dan ongkos angkut menggunakan asumsi biaya logistik termahal di dunia, yakni 26 persen sampai ke pelosok.

"Maka, solar nonsubsidi harus dijual di bawah Rp 4.300 per liter, sedangkan harga solar subsidi di Indonesia seharusnya maksimal tidak lebih dari Rp 3.300 per liter," ujarnya.

BHS pun menilai pemerintah harus menurunkan harga BBM, terutama solar yang sangat dibutuhkan oleh sektor industri, transportasi publik, perikanan dan maritim, serta UMKM termasuk restoran dan pariwisata yang menunjang pertumbuhan ekonomi secara nasional.

BERITA TERPOPULER JATIM: Perawat PDP Corona Meninggal hingga Pengunjung Mall Jember Membludak Viral

Halaman
12
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Arie Noer Rachmawati
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved