Idul Fitri 2020

Mengintip Filosofi Ketupat, Budaya Tak Tergantikan, Berarti Ngaku Lepat atau Mengaku Bersalah

Ketupat adalah makanan yang tidak asing keberadaannya menjelang ataupun sesudah hari raya Idul Fitri.

THINKSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNJATIM.COM - Ketupat adalah makanan yang tidak asing keberadaannya menjelang ataupun sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Makanan ini telah menjadi sebuah fenomena kebudayaan yang khas di Indonesia.

Menurut buku Myth and Meaning (1978), kode-kode kebudayaan memang dapat dijelaskan melalui makanan tertentu yang dipilih oleh sebuah suku.

Mengutip Harian Kompas, edisi 19 September 2009, Raymond Thallis meneliti hubungan antara makanan, pembentukan kosa kata, dan identitas kebudayaan.

Adanya menu makanan yang berbeda dapat menjadi media untuk mengenang berbagai peristiwa penting dalam hidup manusia.

NEWS VIDEO: Penutupan Sementara KBS Diperpanjang hingga 26 Mei Nanti, Tunggu Izin Pemerintah

Filosofi ketupat Pemahaman ketupat dengan metode semiologi Charles Sanders Peirce dapat dilihat sebagai ikon, lambang, dan simbol. Ikon adalah penunjuk langsung.

Lambang merupakan proses pengangkatan ikon ke dalam norma-norma keseharian.

Sedangkan simbol adalah lapis pemaknaan reflektif atas lambang yang terkait dengan struktur kebudayaan.

Menjadi ikon, ketupat digambarkan sebagai makanan yang berbahan beras dan dibungkus dengan daun mudah dari pohon kelapa atau janur.

Sebagai lambang, ketupat memberi arti penting dalam proses perayaan.

Halaman
123
Penulis: Taufiqur Rohman
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved