Breaking News:

Fintech Pendanaan Siapkan Langkah Strategis Bersama, Atasi Dampak Pandemi Covid-19 saat New Normal

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) siap menangkap potensi tren digitalisasi keuangan dengan melakukan langkah-langkah strategis.

ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Ilustrasi Fintech 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) siap menangkap potensi tren digitalisasi keuangan dengan melakukan langkah-langkah strategis dan inovatif di tengah pandemi Covid-19 ini.

Mengingat pemulihan ekonomi diprediksi mulai terjadi pada pertengahan tahun 2021.

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengatakan keberadaan fintech pendanaan bersama semakin relevan saat ini sebagai sarana untuk memperdalam pasar keuangan di Indonesia dimana digitalisasi menjadi tren industri kedepannya di era normal baru disaat pandemi Covid-19.

Penyebaran Virus Covid 19 Belum Berimbas Pada Kinerja Fintech Peer to Peer

Gubernur Jatim Khofifah: OJK Harus Praktekan 3M,Lindungi Masyarakat Dari Investasi & Fintech Ilegal

“Industri fintech pendanaan bersama memiliki kemampuan beradaptasi sebagai DNA seluruh perusahaan menghadapi situasi dampak pandemi Covid-19," ungkap Adrian, Selasa (30/6/2020).

Didukung infrastruktur dan struktur organisasi yang fleksibel, memudahkan industri bertranformasi dan meningkatkan kolaborasi dengan layanan keuangan ekosistem lain.

"Hal ini sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung peran aktif sebagai solusi penyaluran pinjaman masyarakat khususnya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),” lanjut Adrian.

Saat ini, AFPI melalui para member, membuktikan kolaborasi antara fintech pendanaan bersama dan layanan keuangan konvensional berjalan dengan efektif dan tepat sasaran. Kerja sama tersebut telah berjalan melalui beberapa program seperti channeling dan melakukan assessment terhadap credit scoring atau alternative scoring.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK, Tris Yulianta menyampaikan sebagai perpanjangan tangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AFPI diharapkan dapat berkontribusi secara optimal menjadi jembatan antara platform penyelenggara dengan regulator.

"Kami berharap AFPI secara berkelanjutan memberikan edukasi kepada pihak penyelenggara seperti mengenai biaya maksimum 0,8 persen perhari," kata Tris.

Terkait pencantuman emergency call penagihan agar diberikan pembatasan yang jelas dalam code of conduct dan dijalankan oleh semua penyelenggara. Selain itu, kolaborasi yang baik bisa dilanjutkan dan kerja sama yang kurang baik bisa ditemukan solusinya.

Halaman
123
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved