Dukung Swasembada Jagung di Indonesia, Pemkab Lamongan Berinovasi Dongkrak Provitas Jagung Petani

Tingkat provitas dan pemanfaatan teknologi yang masih rendah mendorong Pemkab Lamongan untuk melakukan inovasi mendukung swasembada Jagung.

TRIBUNJATIM.COM/HANIF MANSHURI
Bupati Fadeli saat panen raya jagung di Desa Banyubang Kecamatan Solokuro. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Tingkat provitas dan pemanfaatan teknologi yang masih rendah mendorong Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk melakukan inovasi guna mendukung swasembada jagung di Indonesia.

Pemanfaatan teknologi terbaru sesuai dengan agroekologi dan sosial ekonomi petani dianggap dapat meningkatkan provitas jagung, dampaknya pendapatan petani jagung dapat meningkat.

Itu diungkapkan Bupati Lamongan, Fadeli, pada presentasi dan wawancara kompetisi inovasi pelayanan publik dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan secara virtual, Jum’at (10/7/2020).

Menurut Fadeli, ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk merubah pola petani dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern.

Itu dimulai dengan membuat kawasan percontohan budidaya jagung modern dengan konsentrasi di 5 kecamatan.

VIRAL Gadis Cantik Dinikahi Pria Berfisik Tak Sempurna, Imam yang Saya Cari, Dulu Ditolak Keluarga

Prihatin Dengan Kasus Rudapaksa Janda Muda di Bangkalan, Kajari: Jangan Sampai Terjadi Lagi

Melakukan sosialisasi, pelatihan, publikasi, dan pendampingan kelompok tani, pengembangan kawasan percontohan, menfasilitasi penyediaan sarana produksi, menguatkan kelembagaan petani.

"Juga menumbuhkan koperasi petani, membangun kemitraan dengan sumber teknologi, keuangan, sarana produksi dan produsen pakan ternak, serta melakukan monitoring dan evaluasi, " ungkapnya.

Pertanian modern, kata Fadeli dilakukan dengan menggunakan teknologi terbaru, tanam-panen menggunakan mesin, penggunaan pupuk seperti insektisida dan herbisida tepat dosis, serta penggunaan bibit unggul hibrida pioneer 27, bisi 18, bisi 321 lebih efisien dalam meningkatkan keuntungan petani.

Beberkan Rencana Pembangunan, Bupati Malang Optimis Wilayahnya Semakin Produktif dan Berkembang

RT/RW Gunung Anyar Siap Menangkan Machfud Arifin: Cak Machfud, Jawaban Keresahan Warga

Lebih lanjut Fadeli menambahkan, jika dilihat dengan analisis usaha, biaya produksi pertanian modern, sarana produksi, tenaga kerja, sewa alat relatif lebih mahal yakni Rp 15.385.000 dibanding pertanian tradisional Rp 13.450.000, namun hasil yang diperoleh juga cenderung lebih besar yakni 10.850 kg/ha untuk pertanian modern dan 6.700 kg/ha untuk pertanian tradisional.

"Jika dihitung pendapatan dengan harga jual Rp 3.900 per-kilogram, maka hasil yang diterima adalah Rp 42.315.000 untuk pertanian modern dan Rp 26.130.000 untuk tradisional.

Mendes-PDTT Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa dari UNY, PKB Jatim: Kami dan NU Bangga

Begal Bersajam Beraksi di Pucang Adi, Menyasar Emak-emak dari Pasar, Gondol Uang Ratusan Ribu

Dengan demikian pendapatan bersih yang diperoleh petani adalah Rp 26.957.000 per hektare pada petani modern dan Rp 12.680.000 pada petani tradisional, jika dirasio yakni 2,7 banding 1,9.

“Biaya produksi memang naik 12.4 persen, namun hasil panen juga naik 38,2 persen, begitu juga pendapatan petani yang naik sebesar 52.9 persen,” ungkap Bupati Fadeli.

VIRAL Curhat Cewek Fotonya Dipakai Nipu Pria, Nyaris Dinikahi, Pelaku Pendam Cinta, Lihat Endingnya

Dipastikan, capaian provitas jagung meningkat setiap tahunnya setelah menggunakan pertanian secara modern, yakni mulai dari 5.8 ton per hektare pada tahun 2016, 8.4 ton per hektare pada tahun 2017, tahun 2018 sebesar 9.4 tonper hektare, tahun 2019 9.5 ton perhektare, dan meningkat menjadi 9,7 ton per hektare pada Juni 2020.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Taufiqur Rohman
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved