Breaking News:

Penjahit Difabel Sukses Asal Bojonegoro Kenang Masa Perjuangan, Sulit 'Harus Memberanikan Diri'

Perjuangan Ngatini, difabel asal Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro jadi penjahit sukses. Kenang masa sedih: tekuni dan terus diasah.

SURYA/M SUDARSONO
Ngatini (jilbab merah), saat menerima kunjungan Kadinsos Jatim, Alwi, di rumahnya di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Bojonegoro 

TRIBUJATIM.COM, BOJONEGORO - Kesuksesan memang bukanlah hal yang mudah diraih seseorang, terlebih bagi penyandang disabilitas yang punya  keterbatasan.

Namun menjadi penyandang disabilitas tak membuat Ngatini (40), asal Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, berkecil hati.

Dia membuktikan jika difabel bisa meraih kesuksesan asal apa yang diinginkan ditekuni betul.

Prakiraan Cuaca Hari Ini 23 Juli 2020, Kabupaten Sumenep Diprediksi Cerah

Diberi Waktu Dua Minggu, Rumah Mantan Karyawan Smelting Terancam Disita Jika Gagal Bayar Utang

Meski Ngatini pun mengakui, keterbatasan pada dirinya menyulitkan dalam melakukan beberapa hal.

Bermodal sepasang alat jahit yang dia terima setelah mendapat pelatihan dasar menjahit di UPT Loka Bina Karya (LBK) Dinsos Bojonegoro pada 2008 silam, kini dia sudah membuka usaha sendiri dan bahkan memiliki pekerja.

Meski hanya mendapat pelatihan 1 bulan pada waktu itu, ilmu yang didapatnya terus diasah dengan ikut usaha jahitan orang lain selama empat tahun.

Kue Putu Jajan Nostalgia, Tak Kalah Lezat Dari Red Velvet Gurih Dan Ngeprul Saat Dimakan

Pupuk Kaltim Salurkan 160.173,8 Ton Pupuk Urea Subsidi Untuk Jatim

"Tahun 2008 saya ikut pelatihan 1 bulan di UPT LBK Dinsos, lalu saya keluar dapat mesin jahit dan obras. Setelah itu saya belum berani buka, ikut orang dulu," kenang Ngatini ditemui di rumahnya, Kamis (23/7/2020).

Perempuan yang memiliki keterbatasan untuk berjalan itu mengatakan, setelah bekerja empat tahun ikut orang, baru sekitar 2013 dia memberanikan diri untuk memulai usaha yang dinamai Ngatigun (Ngatini dan Gunawan, yang tak lain nama suaminya, red).

Modal yang digunakan untuk membuka usaha jahitan itu terbilang terbatas, dia hanya mempunyai uang tabungan Rp 10 juta untuk digunakan membeli sepasang mesin jahit. Jadi ada empat alat, karena sudah ada dua alat sebelumnya bantuan dari Dinsos.

Tentu tidak mudah memulai awal membuka usaha, tak seperti sekarang yang bisa dilihat orang lain sukses.

Halaman
12
Penulis: M Sudarsono
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved