Ingat Kasus Mutilasi di Pasar Besar Malang? Lihat Nasib Terpidananya Kini, Hukuman Mati Menanti

Kasus mutilasi di Pasar Besar menggemparkan warga Malang beberapa waktu lalu. Terpidana kasus tersebut kini bakal dijatuhi hukuman mati.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Januar
istimewa
ilustrasi tewas 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kasus mutilasi di Pasar Besar menggemparkan warga Malang beberapa waktu lalu.

Terpidana kasus tersebut kini bakal dijatuhi hukuman mati.

Simak selengkapnya di sini!

Terpidana kasus mutilasi di Pasar Besar Malang, Sugeng Santoso (49), warga Jodipan, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menerima hukuman lebih berat.

Sidoarjo Geger, Pensiunan Polisi Ditemukan Tewas, Ada Sayatan di Lehernya, Dibunuh

Setelah menjalani persidangan dan divonis hukuman 20 tahun penjara pada Rabu (26/2/2020), kini dirinya menerima hukuman lebih berat lagi, yaitu hukuman mati.

Hal itu karena kasasi dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, dikabulkan oleh Mahkamah Agung.

Di mana putusan dari Mahkamah Agung tersebut memperbaiki putusan Pengadilan Tinggi Surabaya, dan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Kota Malang.

Dari putusan Mahkamah Agung itu menyatakan hukuman Sugeng Santoso menjadi lebih berat.

Kepala Kejaksaaan Negeri Kota Malang, Andi Darmawangsa membenarkan adanya putusan dari Mahkamah Agung tersebut.

"Ya memang benar, ada putusan pidana mati untuk terpidana Sugeng. Kami menerima petikan salinan putusan itu pada Jumat (4/9/2020) dari Mahkamah Agung," ujarnya kepada TribunJatim.com, Senin (14/9/2020).

Namun pihaknya masih belum bisa menjelaskan secara detail, alasan hakim Mahkamah Agung memutuskan Sugeng Santoso dijatuhi hukuman mati.

"Kami belum menerima lengkap berkas pertimbangan dari Mahkamah Agung. Hanya petikan salinan putusan. Untuk berkas putusan secara lengkap dan pertimbangan-pertimbangannya, masih belum kami terima," jelasnya.

Oleh karena itu dirinya mengungkapkan, saat ini yang dapat dilakukan terpidana Sugeng Santoso hanya ada dua opsi. Yaitu mengajukan grasi atau permohonan pengampunan kepada presiden atau mengajukan Peninjauan Kembali (PK) tentang hukumannya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved