Breaking News:

Ratusan Massa Geruduk Kantor Gubernur Jatim, Peringati Hari Tani Nasional: Selamatkan Tanah Rakyat

Ratusan petani hingga mahasiswa unjuk rasa geruduk Kantor Gubernur Jatim. Peringati Hari Tani Nasional: selamatkan tanah rakyat.

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Hefty Suud
SURYA/FEBRIANTO RAMADANI
Sejumlah massa membentangkan poster saat menggelar unjuk rasa di Kantor Gubernur, Jalan Pahlawan, Kota Surabaya, Kamis siang (24/9/2020), dalam rangka Hari Tani Nasional. 

TRIBUNAJTIM.COM, SURABAYA - Ratusan massa yang terdiri dari buruh, petani dan mahasiswa se-Jawa Timur menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jatim,  Jalan Pahlawan, Kota Surabaya, Kamis siang (24/9/2020).

Aksi tersebut digelar dalam rangka Hari Tani Nasional.

Massa berteriak meminta  Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, segera keluar dari kantornya untuk menemui dan menjawab sejumlah tuntutan para demonstran.

Eri Cahyadi-Armuji dan Machfud Arifin-Mujiaman Hadiri Rapat Pleno Pengundian Nomor Urut Paslon

Ajak Aurel ke Hotel, Atta Halilintar Ungkap Janjinya saat Menikah Nanti: Sekarang Enggak Boleh

Disamping itu, petugas Polwan juga menghimbau peserta aksi agar tetap menerapkan protokol kesehatan.

Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari petugas kepolisian setempat.

Pantauan Tribun Jatim, sempat terjadi kepadatan lalu lintas, beberapa personil dengan sigap mengatur lajur kendaraan supaya tidak terjadi kemacetan.

Berbagai poster dan spanduk berisi penolakan omnibus law, jalankan reforma, agraria sejati, hingga selamatkan tanah rakyat, dibentangkan, selama melancarkan demo tersebut.

Persebaya Sayangkan Dibukanya Bursa Transfer Pemain: PSSI Seharusnya Dengarkan Mayoritas Suara Klub

Lamongan Masuk Indeks Kerawanan Pemilu: 10 di Indonesia, Begini Langkah Antisipasi Bawaslu

Naning Z Suprawati (32) Korlap Aksi, mengatakan, 60 tahun silam merupakan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) no. 5 tahun 1960. Kelahiran UUPA ini merupakan penanda bagi segenap kaum tani, masyarakat adat, petani, nelayan dan rakyat. 

"Banyak sekali konflik antara kaum petani dengan pemerintah serta kaum pemodal terjadi di Jatim. Kami tidak henti hentinya menyuarakan bahwa tanah adalah alat produksi dan aset masa depan," ujarnya. 

Seiring berjalannya waktu, lanjut Naning, agenda Land Reform atau disebut sebagai Reforma Agraria Sejati semakin tenggelam dan jauh dari harapan. Nasib petani dan rakyat makin terpinggirkan dan termarjinalisasi. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved