Breaking News:

Tomat 1 Kg Dihargai Rp 500, Petani Kediri Lemas, Ketimbang Rugi Pilih Tak Panen: Biar Membusuk

Petani Tomat di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri pilih tak panen tomat. Dibiarkan membusuk. rugi, satu kilogram dihargai Rp 500.

SURYA/FARID MUKARROM
Muhammad Charis salah seorang petani di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri saat menunjukkan sebagian kondisi tomat miliknya. 

TRIBUNAJTIM.COM, KEDIRI - Petani tomat di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri mengeluh harga tomat semakin anjlok dalam satu pekan terakhir. 

Muhammad Charis salah seorang petani tomat di Ngancar, Kabupaten Kediri mengatakan harganya di kisaran 500 - 1000 per kg.

Bahwa harga tomat sebelumnya pernah mencapai 500 rupiah per kg.

Baca juga: Dukung Kegiatan Keluarga Multitasking di Tengah Pandemi, Samsung Meluncurkan Galaxy Tab A7

Baca juga: Meski Kompetisi Liga 1 Belum Jelas, Bek Muda Persebaya Ini Tetap Semangat Latihan

Charis mengaku lantaran harga tomat yang terbilang anjlok ini, dirinya enggan untuk memanen.

"Pengeluaran untuk menanamnya cukup besar, tentu harganya tidak sebanding jika dijual mencapai 500 rupiah per kilogram. Apalagi saya juga gunakan mulsa plastik untuk menutup media tanamnya," katanya.

Selain itu, ia juga terkadang meminta bantuan orang lain (buruh) untuk memanen tomat, harga penjualan tomat tidak cukup untuk membayar upah buruh.

Baca juga: Purnawirawan Polisi Surabaya Dukung Paslon Machfud-Mujiaman

Baca juga: Dinkes Catat Lebih 21 Ribu Warga Kota Malang Telah Jalani Swab Test Saat Pandemi Covid-19

"Kalau dipanen ya keluar biaya lagi, kita harus membayar orang untuk memetik satu persatu tomat ini. Belum lagi saat telah dipetik kita masih perlu mendistribusikannya ke pengepul maupun pasar dan itu butuh biaya lagi. Kalau dihitung-hitung justru rugi kalau kita berniat untuk jual dengan rincian biaya tersebut," katanya.

Sementara itu menurut Charis anjloknya harga tomat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya di waktu panen raya dan tingkat daya beli masyarakat menurun akibat pandemi virus Corona ( Covid-19 ).

Hal inipun membuatnya hanya bisa lemas dan pasrah membiarkan tomat-tomat yang telah siap panen tersebut dibiarkan membusuk atau mengering hingga sendirinya.

"Kalau saya panen jadinya rugi nanti karena masih harus keluarkan biaya buruh dan bensin untuk mengirim pengepulnya. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah supaya bisa mengstabilkan harga tomat sekarang," harapnya.

Penulis: Farid Mukarrom

Editor: Heftys Suud

Penulis: Farid Mukarrom
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved