Breaking News:

Visum Tidak Oleh Dokter Forensik, Pelaku Penganiaan Takmir Masjid di Gresik Minta Dibebaskan

warga Desa Serah, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik meminta putusan bebas kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Gresik, Selasa (20/10/2020).

Penulis: Sugiyono | Editor: Yoni Iskandar
sugiyono/surya
Terdakwa Maftukhin menyimak persidangan secara daring di Pengadilan Negeri Gresik, Selasa (20/10/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK – Penasihat hukum terdakwa Maftukhin (39), warga Desa Serah, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik meminta putusan bebas kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Gresik, Selasa (20/10/2020).

Menurutnya, visum terhadap korban tidak dilakukan oleh dokter spesilias.

Sugianto, penasihat hukum terdakwa Maftukhin, mengatakan, visum et repertum Nomor: 08/VER/X/2019, pada 14 Oktober 2019 terhadap saksi korban Imron(49), tidak dilakukan oleh dokter forensik. Sehingga bukti visum tersebut tidak akurat.

“Visum oleh dokter puskesmas, tidak dokter spesialis forensik, sehingga tidak sah untuk dijadikan barang bukti,” kata Sugianto.

Dalam pembelaan tersebut, Sugianto juga meminta kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Gresik Rina Indrajanti untuk membebaskan terdakwa Maftukhin dari jeratan hukum.

“Kami meminta majelis hakim memutuskan seadil-adilnya,” katanya kepada TribunJatim.com.

Baca juga: Timnas U-19 Vs Hajduk Split - Banjir Kartu dan Hujan Gol, Garuda Muda Lumat Raksasa Koasia 4-0

Baca juga: Demo Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di Malang Tanpa Ricuh, Massa: Kami Terus Lakukan Unjuk Rasa

Baca juga: John Kei Ngaku Tobat Tinggalkan Dunia Hitam, Sebut Semua Cerita Nus Kei Dibuat-buat: Tuhan yang Tahu

Sementara, korban Imron, tetap meminta kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Gresik untuk memutus seadil-adilnya. Sebab, luka memar di punggung akibat pukulan terdakwa masih terasa sakit. Selain itu, rasa malu atas ditariknya kemaluan oleh terdakwa juga masih menjadi beban psikologis di masyarakat.

“Iya masih malu saat di masyarakat,” kata Imron, usai sidang.

Diketahui, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Gresik telah menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama satu tahun dikurangi masa tahanan.

Sebab, terdakwa sebagai pengusaha material nekat menganiaya Imron selaku takmir masjid. Penganiayaan tersebut akibat perkatan saksi yang mengatakan bahwa pasir yang dikirim ke masjid kualitasnya kurang baik.

Akibatnya, terdakwa melakukan dugaan penganiayaan terhadap saksi imron pada Minggu (13/10/2019), sekitar pukul 21.00 WIB, di waduk Desa Sawo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. (Sugiyono/Tribunjatim.com)

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved