Breaking News:

Pertama Kali Gelar Program PERMATA-SAKTI, Universitas Brawijaya Malang Terima 354 Mahasiswa PTN Lain

Universitas Brawijaya Malang menerima 354 mahasiswa dari PTN lain untuk berkuliah di Universitas Brawijaya dalam program PERMATA-SAKTI.

Editor: Dwi Prastika
KOLASE DOK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
KOLASE - Ari Kurniawan Putra, mahasiswa asal Universitas Negeri Gorontalo senang dengan sistem pembelajaran di Universitas Brawijaya Malang yang tidak hanya mendengarkan dosen, tetapi juga berdiskusi. Veren Maretha Putrisari, mahasiswi asal Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Meskipun online, dia senang bisa bertemu dosen dan mahasiswa dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Guna mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), Universitas Brawijaya (UB) Malang menerima 354 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri (PTN) lain untuk berkuliah di Universitas Brawijaya dalam program PERMATA-SAKTI.

PERMATA-SAKTI merupakan akronim dari Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara, Sistem Alih Kredit dengan Teknologi Informasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya Malang, Aulanni’am menuturkan, program PERMATA-SAKTI merupakan program pertukaran mahasiswa melalui kerja sama antarperguruan tinggi negeri se-Indonesia yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).

Kawasan bunderan Universitas Brawijaya (UB). UB merupakan salah satu kampus yang jadi lokasi UTBK-SBMPTN selain UM. Foto diambil beberapa waktu lalu.
Kawasan bunderan Universitas Brawijaya Malang. (SURYA/SYLVIANITA WIDYAWATI)

“Sebagai implementasi kebijakan kampus merdeka, maka kami memberi kebebasan kepada mahasiswa mengikuti program ini, dan adanya inbound dari universitas di luar Universitas Brawijaya sangat baik untuk kinerja universitas. Mereka mendaftar program ini melalui Belmawa, kemudian mekanisme perkuliahan diatur oleh Bagian Akademik UB,” ungkap Aulanni’am, Selasa (10/11/2020).

Sementara itu, Kepala Bagian Perencanaan, Akademik dan Kerjasama, Heri Prawoto Widodo menyampaikan, ini merupakan tahun pertama Universitas Brawijaya Malang melaksanakan program ini, dan sementara baru menerima mahasiswa dari luar Universitas Brawijaya untuk berkuliah di Universitas Brawijaya.

Namun Universitas Brawijaya belum mengirimkan mahasiswaya untuk berkuliah di luar kampus Universitas Brawijaya.

Sebanyak 354 mahasiswa tersebut berasal dari 24 PTN di seluruh Indonesia. Terbanyak berasal dari Universitas Syiah Kuala (67 mahasiswa), dan Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Pada program ini, mahasiswa boleh memilih untuk mengikuti satu atau dua dari tujuh mata kuliah yang ditawarkan Universitas Brawijaya Malang. Yaitu Family Business (Kewirausahaan-Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Perancangan User Experience (Sistem Informasi-Fakultas Ilmu Komputer), Gender dan Kebijakan (Ilmu Pemerintahan-FISIP), Sosiologi Perdesaan Pertanian (Agribisnis-Fakultas Pertanian), Ilmu Reproduksi Ternak (Ilmu Ternak-Fakultas Peternakan), Sistem Transportasi (Teknik Sipil-Fakultas Teknik), dan Pengemasan dan Penyimpanan (Ilmu dan Teknologi Pangan-Fakultas Teknologi Pertanian).

“Tiap mata kuliah bermuatan 3 SKS. Para mahasiswa berhak mengambil 6 SKS, bisa di UB semua, atau 3 SKS lainnya di luar UB. Perkuliahan ini dilakukan selama satu semester, di semester 5 atau 7,” papar Heri.

Selama berkuliah di Universitas Brawijaya, mereka mendapat hak yang sama seperti mahasiswa reguler.

“Saya mengambil mata kuliah Ilmu Reproduksi Ternak, ilmu ini sangat diperlukan untuk perkuliahan saya, dan dapat saya terapkan saat saya co-ass nanti setelah lulus sarjana. Mengikuti program ini merupakan kesempatan emas bagi kami mahasiswa-mahasiswi dari universitas lain untuk merasakan atmosfer belajar di kampus yang selalu menduduki peringkat lima besar di Indonesia,” terang Veren Maretha Putrisari, mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan asal Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

“Banyak manfaat dengan pengalaman belajar di luar kampus. Pertama, meningkatkan wawasan kebangsaan, integritas, solidaritas, perekat kebangsaan antarmahasiswa se-Indonesia, melalui pembelajaran antarbudaya. Kedua, dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan softskill mahasiswa dengan karakter Pancasila, agar siap bergaul secara kooperatif dan kompetitif dengan bangsa-bangsa lain,” Ari Kurniawan Putra, mahasiswa Fakultas Ekonomi asal Universitas Negeri Gorontalo.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved