Breaking News:

BPJS Kesehatan Tulungagung

Cerita ART Tulungagung Obati Gagal Ginjal Pakai JKN-KIS, Tak Keluar Biaya Sama Sekali: Pokonya Enak

Widji Darwati (40) warga Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung cerita pengalaman berobat sakit gagal ginjal dengan JKN-KIS.

Editor: Hefty Suud
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Widji Darwati (40), warga Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung pemilik JKN-KIS. 

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG – Mempunyai sakit gagal ginjal tentu tidak mudah bagi Widji Darwati (40).

Wanita yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga ini, kini sudah tidak bisa lagi bekerja secara maksimal membantu suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, memiliki JKN-KIS membuat biaya berobat Widji lebih ringan.

Ia pun merasa tidak terlalu khawatir biaya rumah tangganya terbengkalai.

“Saya jadi peserta JKN-KIS sejak tahun 2018 dan didiagnosa punya sakit gagal ginjal itu Bulan Juli Tahun 2019. Dokter kemudian menyarankan untuk memasang CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis/ metode cuci darah yang dilakukan melalui perut,-red). Pertamanya saya takut, ternyata CAPD lebih enak dan tidak sakit. Semenjak sakit ini kalau ada yang nyuruh kerja ya baru saya kerja. Bersyukur selama pengobatan tidak ada biaya yang keluar sama sekali,” ucap warga Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung ini.

Selain tidak mengeluarkan biaya, Widji mengaku mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak dipersulit selama berobat.

Sampai dengan saat ini, Widji masih rutin kontrol setiap bulannya, dan untuk cairan CAPD diantarkan ke rumah Widji.

“Saya dilayani dengan baik di sana. Di sana itu enakan, ditangani, tidak dipersulit. Setiap 1 bulan sekali kontrol, tetapi untuk cairan CAPD-nya terus dikirim dari Malang, diantar ke rumah,” ujarnya.

Peserta mandiri kelas 3 ini mengatakan, walaupun membayar iuran rutin setiap bulannya, namun fasilitas yang didapatkan tidak sebanding.

“Saya pernah opname pakai umum. Sekarang ada BPJS ya lebih ringan, ndak keluar biaya sama sekali. Ndak sebanding, lebih enak pakai BPJS, walaupun bayar rutin. Saya dikirim cairan itu 1 cairan harganya Rp 75.000, dapat banyak, 20 box. Sekitar Rp 300.000-an per bulan cairannya. Pokoknya enak lah pakai BPJS itu, terbantu gitu lo. Ndak keberatan kalau bayar iuran sekian, saya bolak balik opname di rumah sakit, sering. Biasanya rawat inap 6 hari, kadang 5 hari, itu tidak ada biaya sama sekali,” pungkasnya.

Dirinya juga tidak keberatan dengan jumlah iuran yang dibayarkan. Sering keluar masuk rumah sakit menggunakan JKN-KIS, Widji merasa terbantu.

Widji mengucapkan banyak terima kasih kepada BPJS Kesehatan karena telah membantu. Dirinya berkomitmen untuk terus membayar iuran, dan berharap BPJS Kesehatan tetap ada.

 “Terima kasih banyak kepada BPJS, karena saya sudah dibantu begitu banyak. Saya akan terus membayar iuran. Mohon kepada semua masyarakat untuk ikut BPJS, karena kalau sakit ada yang bantu, ada yang meringankan beban kita. Untuk BPJS ya semoga makin maju, dan berharap program ini tetap ada. Mungkin kalau saya bayar sendiri ndak bisa paling. Kebutuhan sendiri saja susah, apalagi ketambahan saya sakit, bayar cairannya segitu banyak, pokoknya sulit kalau saya bayangin bayar sendiri,” tutur Widji. (ar/ck)

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved