Breaking News:

Indonesia Butuh Generasi Cerdas Iklim, Di Tengah Fokus Penanganan Pandemi Covid-19

Hadir sebagai pembicara dalam Webinar Nasional tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
istimewa
Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Saat ini Indonesia butuh generasi muda yang cerdas iklim agar mereka dapat menjadi aktor utama upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Hal ini penting karena generasi muda sekarang yang akan paling merasakan dampak jika perubahan iklim makin menjadi kenyataan di masa depan.

Jadi, generasi muda seperti mahasiswa sangat penting memahami dan memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim serta upaya-upaya mitigasi dan adaptasinya. Apalagi saat ini laju perubahan iklim terus meningkat, bukan melambat.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengatakan tanda-tanda dan dampak perubahan iklim - seperti kenaikan permukaan laut, hilangnya es, dan cuaca ekstrem - meningkat selama 2015-2019, yang ditetapkan menjadi periode lima tahun terhangat yang pernah tercatat.

Sebagai program sosialisasi dan edukasi ke generasi muda khususnya mahasiswa mengenai upaya mitigasi perubahan iklim melalui energi bersih, Yayasan Perspektif Baru (YPB) bersama Konrad Adenauer Stiftung (KAS) bekerja sama dengan FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menggelar Webinar Nasional dengan tema “Hidup Baru dengan Energi Terbarukan” .

Hadir sebagai pembicara dalam Webinar Nasional tersebut adalah Pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, dan Dosen FISIP Universitas Sebelas Maret Siti Zunariyah, S.Sos, M.Si. Tampil sebagai keynote speaker Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kini dampak perubahan iklim mulai menjadi kenyataan. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) mengatakan ketika pandemi Covid-19 mengamuk, perubahan iklim tidak berhenti mendatangkan malapetaka.

Baca juga: Ryuji Utomo Ungkapkan Alasannya Hijrah ke Liga Malaysia Merumput Bersama Penang FC

Baca juga: Pengakuan Nia Ramadhani, Nangis Mertua Pernah Kembalikan Kado Pemberian, Bahas Harga: Itu Top Loh

Baca juga: Rekap Hasil Liga Champions - 8 Tim Sudah Pasti Lolos ke Babak 16 Besar, Real Madrid ke Liga Europa?

Dalam laporannya, tentang bencana global, yang dimuat di situs IFRC, menunjukkan bahwa dunia telah dilanda lebih dari 100 bencana - banyak di antaranya terkait iklim - sejak Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Lebih dari 50 juta orang terdampak. IFRC juga mengingatkan bahwa tidak ada vaksin untuk bahaya perubahan iklim.

Wimar Witoelar menyatakan bahwa pandemi ada karena tidak bijaknya orang menggunakan teknologi. Karena itu Bill Gates misalnya bisa meramalkan adanya pandemi.

Jalannya pengatasan pandemi sejalan dengan pertumbuhan energi terbarukan. Menjaga resources alam itu sama dengan menjaga resources manusia. Jika dilakukan secara analitis maka tidak ada yang salah.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved