Breaking News:

Pelibatan Perempuan dalam Pembangunan di Trenggalek Diapresiasi Banyak Pihak

Berbagai pihak meyanjung pelibatan perempuan dalam pembangunan yang digagas Pemerintah Kabupaten Trenggalek

TribunJatim.com/ Aflahul Abidin
Mochamad Nur Arifin bicara soal pelibatan perempuan dalam pembangunan 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK– Berbagai pihak meyanjung pelibatan perempuan dalam pembangunan yang digagas Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

Pelibatan itu antara lain ada di dalam forum musyawarah perempuan, anak, disabilitas, dan kelompok rentan (Musrena Keren) dan sekolah perempuan, disabilitas, anak, dan kelompok rentan (Sepeda Keren).

Dua program itu merupakan gagasan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan sudah berjalan sekitar setahun.
Dalam Musrena Keren, pemerintah melibatkan peran perempuan dan kelompok rentan lain dalam perencanaan program pembangunan mulai tingkat desa hingga kabupaten.

Baca juga: Sebelum Timor Leste Merdeka, Militer Selandia Baru Pernah Masuk Timor Leste, Apa yang Dilakukannya?

Sementara, Sepeda Keren menjadi sekolah nonformal bagi para perempuan dan kelompok yang sama untuk memelajari berbagai hal tentang pembangunan, ekonomi, dan keluarga.

Koordinator Forum Indonesia Untuk Transparasi Anggaran (Fitra) Jatim Dakelan mengatakan, Musrena Keren dan Sepeda Keren adalah ide yang luar biasa.

“Apalagi Sepeda Keren, saya rasa satu-satunya di Indonesia ada sekolah perempuan dan kelompok rentan. Yang mendorong perempuan berdaya di ruang publik,” kata Dakelan, dalam acara talkshow di Trenggalek Innovation Festival (TIF), Selasa (15/12/2020).
Menurut dia, anggaran tingkat kabupaten dan desa harus membahagiakan manusia. Tak peduli jenis gender maupun perbedaan lain. Maka, setiap warga perlu punya peran, termasuk perempuan dan kelompok rentan lain.
“(Musrena Keren) ini harus jadi ‘batu besarnya’. Perempuan harus terlibat dari setiap proses pembahasan anggaran. Pengalaman saya, tidak banyak pembahasan anggaran yang melibatkan ibu-ibu. Karena biasanya ibu-ibu hanya diam di forom,” ucap dia.

Nah, agar tak hanya diam, perempuan harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang anggaran dan pembangunan. Sepeda Keren dianggap menjadi tempat yang tepat untuk belajar terkait hal itu.

Dalam kesempatan yang sama, Sutiah dari Lembaga Pengkajian Kemasyarakatan dan Pemberdayaan (LPKP) Jatim juga memberikan tanggapan positif terhadap Musrena Keren dan Sepeda Keren.

Perempuan, kata dia, belum punya banyak peran dalam pembangunan tingkat desa. Penyebabnya, stigma masyarakat awam yang membatasi ruang gerak perempuan.

Ia menganggap, dua program Pemkab Trenggalek itu sebagai salah satu jalan bagi para perempuan dan kelompok rentan lain dalam bersuara.

Halaman
12
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved