Breaking News:

Setidaknya Ada 40 Sungai di Kabupaten Nganjuk Bakal Dinormalisasi Minimalisir Bencana Banjir

Setidaknya 40 sungai yang ada di Kabupaten Nganjuk bakal dilakukan normalisasi untuk mengurangi terjadinya potensi banjir.

SURYA/Achmad Amru Muiz
Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidhayat saat meninjau salah satu sungai di Desa Plosoharjo Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk yang seringkali meluap dan menggenangi sawah serta pemukiman warga. 

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Setidaknya 40 sungai yang ada di Kabupaten Nganjuk bakal dilakukan normalisasi.

Hal itu sebagai salah satu upaya Pemkab Nganjuk untuk mengurangi terjadinya potensi banjir akibat pendangkalan dan penyempitan sungai.

Kepala Bidang Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk, M Slamet mengatakan, curah hujan dengan intensitas yang tinggi merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah Kabupaten Nganjuk diawal tahun 2021 ini.

Bencana banjir yang sering melanda disaat musim hujan pada tahun ini menjadi perhatian khusus Pemkab Nganjuk.

"Langkah menormalisasi sungai tersebut menjadi salah satu solusi yang akan dilakukan pada tahun ini agar tidak terjadi bencana banjir," kata M Slamet, kemarin.

Baca juga: Kabupaten Nganjuk Dapat 6.368 Dosis Vaksin Covid-19 Tahap Awal, Prioritas untuk Tenaga Kesehatan

Baca juga: Minimalisir Dampak Bencana di Nganjuk, Polisi Pasang Papan Peringatan Terjadinya Tanah Longsor

Dijelaskan Slamet, selain terdapat 40 titik sungai juga ada 28 saluran air yang akan dilakukan normalisasi.

Jumlah sungai dan saluran air yang akan dinormalisasi tersebut masih dapat berubah tergantung dari urgensi yang terjadi.

"Dan sesuai pemetaan kami ada beberapa lokasi yang akan menjadi prioritas, mulai sungai di Desa Mojorembun Kecamatan Rejoso, sungai Bodor Kecamatan Pace, dan saluran air di Kelurahan Ploso," ujar Slamet.

Memang, diakui Slamet, memasuki musim penghujan sekarang ini banyak sungai yang meluap disebabkan oleh berbagai sebab. Yakni mulai dari tanggul jebol, tersumbat sampah, hingga terjadi penumpukan sedimen yang terbawa dari dataran tinggi. Penumpukan sedimen salah satunya terjadi di sungai Mojorembun yang selama musim hujan ini sudah tiga kali meluap.

"Sedimen tersebut berasal dari wilayah Wilangan yang terbawa air dan menumpuk di  sungai Mojorembun tersebut," ucap Slamet.

Baca juga: Terapkan Aplikasi Daring Si-Prestasi, Upaya Dindik Nganjuk Kembangkan Pendidikan Dimasa Pandemi

Dampak dari luapan sungai Mojorembun tersebut, tambah Slamet, sungai dengan lebar enam meter itu meluap hingga merendam ratusan hektare sawah di sekitarnya.

Untung saja, mayoritas tanaman di sawah masih diawal masa tanam sehingga kerugian petani tidak terlalu besar.

Meski demikian, imbuh Slamet, kondisi banjir tersebut tetap harus dipertimbangkan karena jika dibiarkan akan terus berdampak dan membahayakan.

"Makanya, normalisasi akan dikerjakan secepatnya dilakukan tahun ini. Dan Dinas PUPR juga akan fokus dalam penanggulangan rawan bencana," tutur Slamet. (SURYA/Achmad Amru Muiz) 

Editor: Pipin Tri Anjani

Penulis: Achmad Amru Muiz
Editor: Pipin Tri Anjani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved