Breaking News:

Banjir Selama 13 Hari Rendam Tempuran Mojokerto, Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Diterapkan

Pemkab Mojokerto menetapkan status bencana menjadi tanggap darurat bencana Hidrometeorologi terkait banjir yang merendam ratusan rumah warga.

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Pipin Tri Anjani
SURYA/Mohammad Romadoni
Warga beraktivitas di luar rumah yang terendam air banjir setinggi sekitar 40 sentimeter sampai 60 sentimeter di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Pemkab Mojokerto menetapkan status bencana menjadi tanggap darurat bencana hidrometeorologi terkait banjir yang merendam ratusan rumah warga di Dusun Bekucuk dan Dusun Tempuran, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi tersebut sesuai hasil rapat koordinasi penanganan banjir bersama instansi terkait di ruang Satya Bina Karya (SBK) Pemkab Mojokerto. Pasalnya, banjir di Desa Tempuran belum surut selama 13 hari.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini menjelaskan banjir masih merendam rumah warga di Desa Tempuran selama 13 hari.

"Air banjir cenderung ada peningkatan karena itulah sesuai SOP maka diberlakukan status tanggap darurat bencana Hidrometeorologi hingga 31 Maret 2021 kedepan," ungkapnya, Rabu (13/1/2021).

Baca juga: Zona Merah Jatim Bertambah, Ada Potensi Daerah PPKM Ditambah

Baca juga: Profil-Biodata Arie Kriting, Komika yang Kini Sah Jadi Suami Indah Permatasari, Tetangga Arya Saloka

Zaini menyebut peningkatan status bencana menjadi tanggap darurat bencana Hidrometeorologi itu berarti Pemerintah Daerah akan mendirikan Poskomando tanggap darurat di area bencana banjir, dapur umum, tenda pengungsi dan pos kesehatan

"Tenda pengungsi sudah kita dirikan namun belum ditempati karena sebagian mereka mengungsi di rumah warga lain," jelasnya.

Petugas BPBD Kabupaten Mojokerto juga berupaya menanggulangi bencana banjir jangka pendek yang caranya mengurangi ketinggian air di Desa Tempuran.

Perum Jasa Tirta (PJT) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) melakukan pembersihan aliran sungai. Apalagi, sungai Watudakon dipenuhi sampah seperti kayu, bambu dan tanaman enceng gondok, kangkung yang menghambat aliran sungai.

Pihaknya bersama Dinas PUPR akan menambah jumlah pompa untuk mengurangi ketinggian air banjir. Hasil  kajian kondisi geografis Desa Tempuran merupakan  daerah rendah atau cekungan yang rawan banjir.

Baca juga: Rekaman Kokpit Pesawat Isi Bagian Lain Black Box SJ 182 yang Belum Ditemukan, Titik Sudah Ditandai

Baca juga: Doa Keluarga YouTuber Faisal Rahman Korban Sriwijaya Air, Berharap Ada Mukjizat, Pasrah Keadaan

"Penanganan jangka pendek air banjir cepat surut sudah dioperasikan tiga unit pompa kapasitas 160 liter perdetik dari BBWS dan penurunan air sekitar lima sentimeter," Ucap Zaini.

Ditambahkannya, sinergitas instansi diperlukan semisal Dinas PUPR juga akan membersihkan sampah enceng gondok, kangkung dan kayu. Sedangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyediakan bak sampah dan dua armada mobil Mandi untuk keperluan Cuci, Kakus (MCK) warga terdampak banjir.

Selain itu, BPBD juga memasok logistik bantuan untuk korban banjir yaitu berupa air bersih, tenda pengungsi dan evakuasi terdampak trauma hiling.

"Dinas DPR2KP akan memperbaiki sarana air bersih dan BBWS melanjutkan pembangunan yang belum selesai yaitu tanggul dari Bekucuk- Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang sepanjang 1,5 km dan penyelesaian penyaring sampah anggaran dana Rp.40 milyar tahun 2021," tandasnya. (SURYA/ Mohammad Romadoni).

Editor: Pipin Tri Anjani

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved