Breaking News:

Universitas Airlangga Kirim 18 Dokter dan Kapal Rumah Sakit Terapung ke Sulawesi Barat

Universitas Airlangga mengirimkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk membantu penanganan dampak gempa. 

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Pipin Tri Anjani
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Universitas Airlangga mengirimkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk membantu penanganan dampak gempa. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Dua gempa berkekuatan cukup besar mengguncang daerah Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat dalam 2 hari secara berturut-turut pada Kamis dan Jumat (14/1/2021).

Berbagai kerusakan dan korban jiwa berjatuhan dalam bencana tersebut. Untuk itu Universitas Airlangga mengirimkan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk membantu penanganan dampak gempa

Terutama terkait penambahan personel medis. 

Sekretaris Yayasan Ksatria Medica Airlangga (YKMA/pengelola operasional RST), Dr Suwaspodo Henry Wibowo SpAnd MARS mengatakan Tim AJU I yang langsung dikomando Direktur RSTKA dr Agus Hariyanto SpB mengirimkan kurang lebih 18 dokter. 

Mereka terdiri atas 2 apoteker, 2 dokter bedah, 2 dokter anestesi, 4 dokter umum, 4 perawat umum, 2 perawat anastesi, dan 2 perawat bedah operasi.

Baca juga: Melanggar PPKM, Satu Kafe Di Bukirsari Malang Disegel Petugas

Baca juga: BERITA TERPOPULER JATIM: Hujan Abu Erupsi Semeru - Gugatan Rizal Ramli Soal Presidential Threshold

"Tim AJU 1 juga bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur  dan IDI Surabaya. Mereka diminta hadir menggantikan fungsi rumah sakit di lokasi bencana yang sudah tidak bisa beroperasi," urai pria yang akrab disapa dokter Henry ini.

Ia mengungkapkn kapal RSTKA berangkat dari Surabaya Minggu(17/1/2021) dan masih menunggu meredanya pasang air laut. Dibutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke Makassar.

“Melihat situasinya yang darurat, tim harus segera ke sana. Kita berkoordinasi dengan Tim Bencana Kemenkes. Kapal kita diminta hadir di sana. Rumah sakit di sana banyak yang tidak beroperasi,” urai dr Henry.

Dengan kondisi lapangan yang belum diketahui, Tim AJU I akan menjadi pionir medis untuk membuka jalan ke lokasi. 

Menurut dr Henry, tim juga bertugas melakukan survei lokasi bencana dan mengumpulkan kebutuhan apa yang kurang  di lapangan. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved