Breaking News:

Era Kejayaan Apel Batu Berada di Ujung Tanduk

Kota Batu diidentikan dengan buah apel. Banyak pohon apel tumbuh subur di kawasan Kecamatan Bumiaji yang memiliki ketinggian 950 meter

Penulis: Benni Indo | Editor: Yoni Iskandar
Benni Indo/Surya
Petani apel Usman Hudi menunjukan apel produksinya yang diserang hama mata ayam sehingga tidak layak jual. 

Laporan Wartawan TribunJatim Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, BATUKota Batu diidentikan dengan buah apel. Banyak pohon apel tumbuh subur di kawasan Kecamatan Bumiaji yang memiliki ketinggian 950 meter di atas permukaan laut.

Apalagi jika melihat dua hingga tiga dekade yang lalu, hampir setiap rumah di Kecamatan Bumiaji memiliki pohon apel di halaman depannya.

Kini, kondisinya berbeda. Pohon apel di depan rumah tidak lagi banyak terlihat. Produksi apel juga menurun. Tersisa sekitar 1100 Ha lahan pertanian apel di Kota Batu. Data dari Dinas Pertanian Batu, pada periode 2018 ke 2019 ada 600 Ha lahan pertanian apel yang beralih fungsi.

Sektor pertanian apel menghadapi tantangan yang begitu serius saat ini karena bersaing dengan sektor pariwisata dan lainnya. Padahal, sektor pertanian memiliki andil besar mewujudkan Kota Batu menjadi pemerintah tersendiri yang lepas dari Kabupaten Malang.

Usman Hudi, seorang petani dan penjual apel di Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji bahkan mengatakan kalau era kejayaan apel di Kota Batu sudah habis. Sebagai petani apel yang telah turun temurun dari sesepuhnya, Usman tahu persis kondisi pertanian apel di Kota Batu.

Maka saat ia mengatakan era kejayaan apel sudah berakhir di Kota Batu, hal itu berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri. Apel dari Kota Batu dikatakannya telah kalah bersaing dengan apel dari Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang.

Ditemui di kediamannya, Usman menceritakan kondisinya saat ini. Ia sudah tiga tahun mengalami kerugian akibat menanam apel. Kerugian itu terjadi karena biaya produksi lebih tinggi daripada pemasukan.

Dikatakannya, satu pohon apel bisa menghabiskan anggaran sekitar Rp 90 ribu, sedangkan pendapatannya dari satu pohon hanya mencapai kisaran Rp 60 ribu.

Baca juga: Intip Kebun Kelengkeng Itoh Purna TNI AU di Magetan, Unggulan, Sebulan Bisa Panen Ratusan Juta

Baca juga: Isu Liga 1 2020 Dihentikan Sampai ke Sponsorship, Arema FC Siapkan Langkah Penuhi Utang Benefit

Baca juga: KELUAR Hasil Penyelidikan Internasional Asal Covid-19: Kesalahan WHO & China, Faktanya Mengejutkan

Selain timpangnya pengeluaran dan pemasukan, tanaman apel yang ia tanam selalu dihantam hama sehingga produksinya jelek dan tidak layak jual. Dalam sepekan, ia mengubur 7 ton hingga 9 ton apel karena kondisi apel yang tidak laik jual.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved