Breaking News:

Era Kejayaan Apel Batu Berada di Ujung Tanduk

Kota Batu diidentikan dengan buah apel. Banyak pohon apel tumbuh subur di kawasan Kecamatan Bumiaji yang memiliki ketinggian 950 meter

Benni Indo/Surya
Petani apel Usman Hudi menunjukan apel produksinya yang diserang hama mata ayam sehingga tidak layak jual. 

Hanya saja, ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencari kesempatan kerja lain agar terhindar dari kerugian. Ia tetap bertani apel karena yang bisa ia lakukan hanya bertani.

“Kami ini orang pribumi yang bisanya ya cuma ini, bertani apel,” katanya kepada TribunJatim.com, Senin (18/1/2021).

Katanya, wabah mata ayam sudah mendera petani apel dalam tiga tahun berturut-turut ini. Mata ayam membuat buah apel memiliki bintik hitam yang kemudian membusukan buah. Wabah ini, kata Usman selalu dating setiap musim hujan.

“Periode sekarang mulai dimulai sejak November 2020. Semuanya terdampak, saya mengelola untuk Apel sekitar 5 Ha. Terdampak semuanya,” akunya.

Setahun belakangan ini, Usman mencoba mengolah apel yang tidak terjual menjadi keripik, namun usahanya itu tidak berjalan mulus apalagi dihantam oleh pandemic Covid-19.

Buah apel yang selamat hanya 20 persen saja. Itu pun terjual dengan harga murah. Usman tidak sekadar menjual apel Batu, ia juga memasok apel dari Pujon, Kabupaten Malang dan Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.

“Harga apel saat ini di petani per kilo Rp 4000 sampai Rp 5000. Di pasaran Rp 5500 sampai Rp 6000 untuk Apel Manalagi. Dalam kondisi normal, harganya Rp 7000-an ke atas per kilogram,” tuturnya kepada TribunJatim.com.

Bukan tidak ada tindakan dari Usman dan petani lainnya untuk menghalau wabah mata ayam. Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari penyemprotan hingga teknik tanam yang berbeda. Namun nyatanya, wabah mata ayam tidak pernah hilang.

“Saya sudah kehabisan akal. Sudah pakai pestisida dan sebagainya tetap tidak bisa. Saya tidak bisa melawan alam,” paparnya.

Usman pun telah menyiapkan diri untuk menghadapi masa-masa akhir kejayaan apel di Kota Batu. Kini, ia mencoba peruntungan menanam varietas lainnya seperti sayuran. Meskipun berat baginya meninggalkan tradisi menanam apel karena telah turun temurun dari pendahulunya, namun zaman berkata lain.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved