Riset UB, Dampak Covid-19 Membuat Pengiriman Uang Ke Malang Lebih Lamban

Dampak pandemi Covid-19 ke berbagai hal. Termasuk membuat pengiriman uang dari pekerja migran ke Malang sebagai daerah asal yang tertunda

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yoni Iskandar
Warta Kota
Ilustrasi uang 

Reporter : Sylvianita Widyawati | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Dampak pandemi Covid-19 ke berbagai hal. Termasuk membuat pengiriman uang dari pekerja migran ke Malang sebagai daerah asal yang tertunda hingga tidak mengirimkan uang kepada keluarganya di Indonesia.

Penelitian itu dilakukan oleh Faishal Aminuddin, Saseendran Pallikadavath, Sujarwoto, Keppi Sukesi dan Henny Rosalinda, peneliti Universitas Brawijaya.

Dijelaskan Keppi, anggota peniliti, banyak juga dari pekerja migran yang kehilangan pekerjaan. Hal ini membuat mereka tidak dapat mengirimkan uang.

“Maka pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja migran di luar negeri dan keluarga mereka di Indonesia selama pandemi Covid-19,” kata dosen UB ini, Rabu (3/2/2021).

Menurut Keppi Sukesi, lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Malang. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang banyak mengirimkan pekerja migran ke luar negeri.

Momen Arya Saloka & Amanda di Luar Syuting, Goyang Bareng hingga Mesra, Disindir Putri Anne? Miss

Dentuman Misterius di Kota Malang Ternyata Terdengar Sampai Pasuruan, BPBD Masih Telusuri Asal Suara

Gus Baha Menolak Diberi Voucer Umrah Saat Mengaji di Jatim, Kiai Kok Diatur-atur

Mereka umumnya bekerja di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan dan Arab Saudi. Mereka bekerja di sektor domestik seperti asisten rumah tangga atau pekerja pabrik.

Sejak terjadinya pandemi, banyak di antara mereka yang menghadapi permasalahan ekonomi. Sehingga dampaknya pada tersendatnya pengiriman uang ke keluarga mereka di Indonesia. Latar belakangnya adalah para pekerja migran umumnya menghadapi masalah seperti terlambatnya pembayaran gaji dan pemberhentian pekerjaan bagi mereka yang bekerja di pabrik akibat pandemi.

"Sehingga, mereka tidak bisa mengirimkan uang kepada keluarga mereka di Indonesia hingga beberapa bulan. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka juga menghadapi permasalahan psikologis akibat takut terpapar virus atau tidak bisa kembali ke Indonesia,” tandas profesor ini kepada TribunJatim.com.

Sedang anggota peneliti lain, Sujarwoto menyatakan, dari survei yang dilakukan terhadap 605 Rumah Tangga dengan 1.926 anggota rumah tangga keluarga migran di Kabupaten Malang, semua mengalami permasalahan sosial ekonomi serta merasakan kekhawatiran terhadap keluarga mereka akibat pandemi Covid-19.

Dikatakan, keluarga pekerja migran merupakan warga yang berada pada kelas sosial menengah kebawah. Dimana mereka tergantung pada keluarga mereka yang bekerja sebagai migran untuk bertahan hidup.

Jadi ketika pekerja migran mengalami kendala terkait pengiriman gaji kepada keluarga mereka di Indonesia, para keluarga migran pun terdampak langsung.

Masalah Sekolah Daring

Hal lain di riset itu juga soal permasalahan sekolah daring bagi bagi keluarga migran. Banyak dari anak-anak pekerja migran yang kesulitan bersekolah akibat tidak memiliki akses terhadap jaringan internet.

Pemerintah memang telah memberikan bantuan sosial berupa bahan pangan dan kuota internet bagi pelajar. Tetapi di beberapa wilayah persebaran pemberian bantuan masih dinilai belum merata.

Sehingga keluarga migran yang belum memperoleh bantuan dari pemerintah harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sedang di bidang kesehatan, para pekerja migran juga mengaku tidak pernah memperoleh bantuan kesehatan dari pemerintah Indonesia. Pemerintah dinilai kurang memperhatikan kondisi kesehatan pekerja migran yang ada di luar negeri.

Begitu juga keluarga yang ditinggalkan. Mereka umumnya adalah petani di desa dan tidak punya BPJS. Dijelaskan Keppi, penelitian ini bekerja sama dengan Portsmouth University Inggris untuk melihat kondisi sosio ekonomi dan kesehatan para pekerja migran dan keluarga yang ditinggalkan khususnya selama pandemi.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved